"FLU BURUNG: KITA TIDAK PERLU TAKUT!”

Infovet Mei 2005

"FLU BURUNG: KITA TIDAK PERLU TAKUT!”


(( Kecil kemungkinan terinfeksi dari daging dan telur selama kita tidak mengkonsumsi daging atau telur burung dalam kondisi mentah. Peluang terjadinya infeksi pada peternak sendiri sebenarnya juga bisa ditekan sekecil mungkin melalui pemusnahan segera burung yang terinfeksi, sterilisasi kandang dengan disinfektan seperti formalin dan iodine, pembatasan orang orang yang masuk kandang, dan lain-lain. ))

WABAH flu burung (avian flu) kembali mewabah di Indonesia. Wabah besar penyakit yang disebabkan oleh virus avian influenza (AI) ini, sebelumnya terjadi di kawasan Asia pada akhir 2003 sampai awal 2004 dan telah mengakibatkan matinya jutaan ternak unggas di kawasan ini. Selain itu juga dilaporkan adanya 35 kasus pada manusia, di mana 23 di antaranya meninggal. Hasil analisa menunjukkan bahwa virus yang menjadi penyebabnya adalah jenis H5N1. Munculnya kembali H5N1 ini telah meresahkan masyarakat karena ini membuktikan bahwa virus masih bersirkulasi di sekitar kita.
Demikian Dr Andi Utama dari Puslit Biotelnologi-LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada Diskusi Panel “Flu Burung: Kita Tidak Perlu Takut!” yang diselenggarakan di PDII LIPI di Jakarta, Kamis 14 April 2005. Dalam pemaparannya Dr Andi mengambil judul: Mengenal Lebih Jauh Virus Flu Burung.

Virus Influenza dan AI
Diuraikan Dr Andi, Virus influenza diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu A, B, dan C. Diantara ke-3 tipe ini, yang sering menimbulkan wabah, baik pada burung maupun manusia adalah tipe A. Tipe ini dibagi lagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan protein hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N), dua protein yang muncul di permukaan virus (spike protein), sehingga penamaannya menjadi HxNx (contohnya, H5N1).
“Adapun protein H terdiri dari 15 subtipe (H 1 - H 15), sedangkan protein N terdiri dari 9 subtipe (N 1 - N9). Protein H berfungsi sebagai antigen yang mengindus antibodi. Selain itu, protein ini juga menentukan tingkat patogen virus influenza. Seperti contoh, virus tipe H5 dan H7, mempunyai tingkat patogen yang tinggi terhadap ayam temak. Protein N, selain berfungsi sebagai antigen dan juga berfungsi untuk pelepasan virus dari dalam sel (budding), serta penentu tingkat patogen,” urai Andi.
Selanjutnya ia mengatakan, Virus AI adalah virus infuenza yang lebih khusus menginfeksi burung, tidak manusia dan hewan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena virus influenza biasanya host-specific, artinya virus jenis tertentu hanya spesifik terhadap inang (host) tertentu. Seperti contoh H5N 1 dan H9N2 adalah virus AI, sementara H 1 N 1 adalah virus influenza manusia.
“Host-specific ini ditentukan oleh struktur reseptor yang berbeda antara keduanya. Walaupun demikian, terkadang virus AI juga bisa menginfeksi beberapa makhluk hidup lainnya seperti babi, kuda, ikan paus, dan lain-lain,” papar Andi, seraya melanjutkan. Bahkan seperti halnya H5N 1 dan H9N2, virus AI tiba-tiba bisa menginfeksi manusia. Perubahan ini terjadi karena virus influenza selalu berevolusi, yaitu merubah diri melalui antigenic drift dan antigenic shift.

Antigenic Drift dan Antigenic Shift
Alumnus universitas terkemuka di Jepang ini memapaparkan Virus influenza yang memiliki RNA sebagai genomnya, adalah virus yang mudah berubah. Virus influenza sering mengalami mutasi secara terus menerus pada antigennya. Mutasi ini dinamakan antigenic drift. Lebih dari itu virus influenza bisa melakukan perubahan pada protein, terutama protein H dan N, sehingga melahirkan virus subtipe baru.
“Seperti contoh,” katanya, “Subtipe H5N1 bisa menjadi subtipe H5N2 atau H4Nl. Proses ini dinamakan antigenic shift. Baik antigenic drift maupun antigenic shift ini melahirkan virus dengan karakter baru, sehingga bisa menginfeksi berbagai makhluk hidup dan bisa melarikan diri dari sistim kekebalan tubuh.
Dengan cara ini, virus Al yang tadinya hanya bisa menginfeksi burung berubah menjadi virus yang mampu menginfeksi manusia.”
Walaupun demikian, menurut Andi sampai saat ini belum diketahui mekanismenya. Salah satu hipotesa saat ini adalah virus Al tidak bisa langsung menginfeksi manusia, tetapi terlebih dahulu beradaptasi pada babi atau kuda yang berfungsi sebagai inang intermediet (intermediate host). Hal ini berdasarkan fakta bahwa baik virus yang menginfeksi manusia maupun yang menginfeksi burung, keduanya bisa menginfeksi babi dan kuda ini. Diduga bahwa antigenic shift terjadi dalam tubuh babi. Selain itu juga ada bukti bahwa transmisi virus influenza dari babi ke manusia atau sebaliknya bisa terjadi.
Menurut ilmuwan yang masih belia ini, tingginya peluang terjadinya antigenic shift ini juga disebabkan oleh struktur genom virus influenza itu sendiri, yang terdiri dari 8 segmen gen yang terpisah. Jika seseorang atau hewan terinfeksi oleh virus dengan tipe yang berbeda, akan terbuka peluang untuk terjadinya penukaran segmen gen terebut. Misalnya, jika babi terinfeksi oleh virus influenza manusia dan virus Al pada waktu yang bersamaan, akan ada kemungkinan terjadinya penukaran segmen gen sehingga tercipta virus jenis baru, misalnya sebagian besar gennya dari virus influenza manusia, sementara H dan N-nya berasal dari Al.

Obat Anti-Influenza
Dalam diskusi panel yang dihadiri berbagai kalangan di tempat strategis di ibukota Indonesia Raya itu, Dr Andi menjelaskan, obat merupakan alternatif penanggulangan infeksi influenza pada manusia. Saat ini ada dua jenis obat antivirus. Pertama adalah ion channel (M2) blocker, seperti amantadine dan rimantadine. Obat ini memblok aktivitas ion channel dari influenza virus A, tidak influenza virus B.
“Akibatnya, aliran ion hidrogen akan terblokir sehingga virus tidak bisa melakukan proses perkembangbiakan. Obat yang kedua adalah neurimidase (NA) inhibitor, seperti zanamivir dan oseltamivir. Karena protein NA berfungsi pada proses pelepasan virus setelah berkembangbiak di dalam sel, NA inhibitor ini membuat virus tidak bisa keluar dari sel. Akibatnya, virus akan teragregasi di permukaan sel dan tidak bisa pindah ke sel lain,” urai Andi Utama.
Sayang sekali, sesalnya, obat ion channel blocker memicu munculnya virus yang resisten. Bahkan virus ini patogen dan bisa menular kepada orang yang dekat dengan pasien. Munculnya virus yang resisten ini disebabkan karena terjadinya mutasi pada protein M2. Sementara itu, obat NA inhibitor efektif terhadap virus influenza A dan B. Obat ini hampir tidak memicu munculnya virus yang resisten. Kalaupun muncul virus yang resisten jumlahnya tidak lebih dari 1%. Hanya saja zanamivir dan oseltamivir ini lebih mahal dibandingkan dengan amantadine dan rimantadine.
“Obat antivirus seperti ini sangat bermanfaat untuk penanganan jangka pendek, terutama pada saat munculnya virus baru. Hal ini disebabkan karena obat antivirus tidak spesifik, sehingga diharapkan bisa efektif. Beberapa studi awal juga menunjukan bahwa zanamivir dan oseltamivir bisa memproteksi mencit dari serangan virus H5Nl. Walaupun amantadine dan rimantadine tidak menunjukan efek yang positif, terapi dengan menggunakan kombinasi antara ion channel blocker dan NA inhibitor diharapkan akan lebih efektif,” tegas ilmuwan muda ini.

Vaksin
Lebih lanjut ilmuwan brilian itu mengutarakan, jika obat berfungsi untuk penanggulangan jangka pendek, untuk penanggulangan jangka panjang diperlukan vaksin. Hal ini disebabkan karena vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap serangan flu burung, baik terhadap burung maupun manusia. Namun selama ini pengembangan vaksin H5Nl menemukan beberapa kendala.
Kendala pertama, ujarnya, disebabkan karena H5N1 adalah virus yang sangat virulen, produksi vaksin memerlukan fasilitas dengan tingkat sekuriti yang tinggi. Kendala yang kedua adalah sulitnya untuk mendapatkannya dalam jumlah yang banyak. Hal ini disebabkan karena virus H5N1 sangat virulen, pengembangbiakannya pada telur untuk produksi-vaksin juga memberikan dampak negatif terhadap telur. Tetapi teknologi reverse-genetic memberikan solusi terhadap masalah ini. Teknologi ini memungkinkan kita untuk bisa memodifikasi gen yang kita inginkan. Seperti contoh, kita bisa memutasikan gen yang menentukan virulensi sehinga didapatkan H5N1 yang non-virulen, yang bisa digunakan untuk produksi vaksin.
Berikutnya Dr Andi menyambung, Jika vaksin dari satu subtipe (katakana H5N1) tidak tersedia, vaksin dari virus yang satu tipe masih bisa digunakan. Hal ini karena vaksin dari satu tipe. Misalnya H5Nx terbukti efektif, walaupun tidak sempuma. Vaksin dari H5N2 misalnya, terbukti efektif terhadap serangan H5N 1 pada burung. Namun, vaksin dari virus yang berbeda ini hanya bisa menekan timbulnya gejala penyakit, tidak menghilangkan virus yang dimaksud dari dalam tubuh. Karena itu vaksin yang benar-benar efektif adalah vaksin yang sesuai dengan virus yang menyerang.

Tidak Perlu Takut
Dalam diskusi yang seru dengan berbagai pertanyaan hadirin dari berbagai instansi itu, Dr Andi mengungkapkan, selama wabah flu burung ini masyarakat enggan mengkonsumsi daging dan telur ayam, karena takut akan terinfeksi. Perlu diketahui bahwa virus H5N1 mati dengan pemanasan 56. selama 3 jam atau 60. selama 30 menit. Artinya, kecil kemungkinan terinfeksi dari daging dan telur selama kita tidak mengkonsumsi daging atau telur burung dalam kondisi mentah. Virus influenza relatif stabil pada suhu rendah, sehingga wabah influenza di negara yang bermusim biasanya terjadi pada musim dingin. Sementara negara kita adalah negara tropis, sehingga virus influenza termasuk H5N 1 tidak akan bisa bertahan lama di lingkungan. Hal ini juga akan memperkecil penyebaran virus ini dibandingkan dengan negara yang bersuhu dingin.
Fakta lain, tegasnya, adalah infeksi virus ini hanya terbatas pada peternak, yang mempunyai kontak langsung dengan ternak, tidak pada masyarakat banyak. Kita perlu khawatir terhadap penyebaran wabah virus ini ke komunitas yang lebih luas jika virus Al H5N1 ini bisa menular dari manusia ke manusia (human-to-human transmission), seperti halnya virus influenza manusia. Tapi sampai saat ini belum ada bukti yang menujukan terjadinya hal itu, sehingga tidak terjadi wabah pada suatu komunitas.
Akhirnya, Andi mengungkap, peluang terjadinya infeksi pada peternak sendiri sebenarnya juga bisa ditekan sekecil mungkin melalui pemusnahan segera burung yang terinfeksi, sterilisasi kandang dengan disinfektan seperti formalin dan iodine, pembatasan orang orang yang masuk kandang, dan lain-lain. Tindakan ini lebih dikenal dengan biosecurity. Selain itu, vaksinasi ternak juga dilaksanakan untuk pencegahan penyebaran wabah flu burung ini. (Infovet)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls