Korisa dalam Pandangan Peternak Bekasi

Fokus Infovet Edisi 163 Februari 2008

Korisa dalam Pandangan Peternak Bekasi


Burangkeng Farm adalah sebuah peternakan milik Drh Djodi Hario Seno di Bekasi Jawa Barat, demikian juga Rokim Farm, yang terletak di Cimuning, Bekasi, yang berpopulasi 40.000 ekor ayam pedaging. Sedangkan di rumah potong ayamnya di Tamansari, Setu Bekasi, Drh Djodi Hario Seno juga mempunyai satu kandang besar ayam-ayam yang hendak dipotong.
Dua ciri menyolok dari kandang-kandang peternakan milik Drh Djodi Hario Seno yang total berpopulasi 100.000 ekor ayam pedaging adalah: semua kontruksi kandangnya adalah kandang panggung, dan peternakannya sangat bersih juga pada kantor dan perumahan di lingkungan peternakannya!
Selaku narasumber ditanya langsung oleh Infovet di Ruko (Rumah Toko) miliknya tempat penjualan ayam daging segar di Bekasi Jawa Barat, Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Bersatu (PPUB) Bekasi itu menjelaskan bahwa kontruksi kandang panggung bagi ayam-ayam adalah: Sirkulasi udara kandang panggung jauh lebih baik dari pada kandang liter.
Adapun, sirkulasi udara yang bagus syarat mutlak untuk kesehatan ternak yang baik. Menurutnya, kebersihan kandang dan lingkungannya dengan sirkulasi udara merupakan perpaduan yang mutlak dibutuhkan. Layar tirai kandang harus di buka secara teratur. Kejorokan dan akumulasi amoniak karena kandang tidak pernah dibuka (selalu tertutup) merupakan pemicu munculnya berbagai penyakit termasuk penyakit pernafasan Korisa.
Sementara itu, musim pancaroba di mana terjadi peralihan perpindahan musim di mana suhu secara ekstrim berubah menurut Dodi Kuncoro Gana SPt, putra dari Ketua PPUB itu, merupakan faktor penting yang dapat memunculkan penyakit pernafasan korisa ini.
Menurut Drh Djodi Hario Seno, terjadinya Korisa adalah karena kandang yang jorok, tempat air minum tumpah, tumbuh jamur. Bila jamur masuk paru-paru bisa menyebabkan paru-paru bengkak, apalagi bila dimana ada infeksi kuman bakteri penyebab Korisa.
Bagaimana diagnosa penyakitnya? Menurut peternak di Bekasi itu, beberapa karyawan di peternakannya, rata-rata sudah bisa melakukan diagnosa, sudah tentu di bawah pengawasannya selaku dokter hewan. Untuk melakukan diagnosa itu kalau perlu dilakukan pula bedah bangkai. Baru kalau penyakit tidak bisa di tangani sendiri peternak akan memanggil petugas teknis kesehatan hewan dari pabrik obat hewan, agar mereka membantu.
Menurut Dodi Kuncoro Gana SPt yang pernah bekerja di PT Mensana Aneka Satwa, Korisa memang banyak ditemukan pada peternakan ayam petelur namun sedikit dijumpai pada ayam pedaging. Gejala Korisa menurutnya adalah ada lendir pada hidung yang menyebabkan tersumbatnya hidung sehingga pasokan unggas berkurang.
Anjuran Dodi Kuncoro Gana, untuk mengatasi Korisa, lihatlah penyebabnya apakah kandang kotor, lalu lingkungannya, suhu, cuaca dan iklim. Apakah struktur kandang, ventilasi, manajemen petugas kandang dilakukan dengan baik.
Hal ini penting diperhatikan karena akibat Korisa terjadi penurunan produksi telur, penurunan berat badab pada ayam pedaging, penurunan stamina daya tahan, penurunan antibodi, dan penurunan produktivitas pada ayam pullet.
Pencegahan Korisa dengan menggunakan vaksin Korisa biasa diberikan pada ayam petelur namun tidak pada ayam pedaging. Bila kasus korisa sudah terjadi pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika. “Hampir semua penyakit diberlakukan demikian,” kata Drh Djodi Hario Seno.
Adapun penanganannya pun sesuai dengan manifestasi penyakit yang terjadi. (YR)

TIDAK PANDANG BULU, TIDAK BERDIRI SENDIRI

Fokus Infovet Edisi 165 April 2008

TIDAK PANDANG BULU, TIDAK BERDIRI SENDIRI


(( Dengan tidak pandang ‘bulu’nya Kolera itu, kebanyakan penularan Kolera terjadi melalui air minum yang tercemar oleh bakteri dalam cairan hidung, mulut, mata atau kotoran ayam. Pembibit jantan pun dapat menularkan bakteri melalui semen-nya. ))

Meskipun kebanyakan kolera menyerang ayam petelur, peternak ayam potong pun patut was-was. Seorang peternak ayam broiler menjumpai, bila cuaca panas-hujan silih berganti sering muncul penyakit yang menimbulkan diare berwarna hijau. Setelah didiagnosa oleh dokter hewan, memang ayam pedagingnya terserang Kolera.
Menurut seorang peternak yang memelihara ratusan ribu pedaging di Trenggalek Jawa Timur, kolera dapat menyerang ayam pada umur 7-8 hari maupun menjelang panen saat umurnya tiga puluh hari-an.
Jelasnya, kasus kolera sering ditemukan di daerah yang padat populasi ayamnya baik pedaging maupun petelur. Penyakit yang disebut juga avian cholera ini sudah ada sejak dulu dan tercatat sejak tahun 1782. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) kolera termasuk dalam empat penyakit yang paling sering menimbulkan masalah di perunggasan Amerika khususnya kalkun.
Penyakit ini telah menyebar luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Semua jenis unggas seperti ayam, itik, burung peliharaan maupun liar dapat terserang penyakit kolera. Hanya saja kejadian pada ayam lebih banyak menimpa ayam petelur yang sudah lewat masa grower.

Tidak Pandang Umur

Menurut pengalaman seorang peternak yang populasi ternak ayamnya cukup besar dari Blitar, Jawa Timur serangan kolera tidak mengenal umur ayam. Pemeliharaan ayam dengan berbagai umur sebaiknya diatur. Kandang starter dan grower tidak berdekatan letaknya dengan ayam lebih tua/dewasa atau yang sudah bertelur. Hewan lain seperti itik, angsa, anjing, kucing, domba maupun ternak lainnya tidak dipelihara dalam lokasi yang sama dengan peternakan ayam.
Hasil pengamatan seorang praktisi selama bertugas di lapangan, kebanyakan kasus kolera ini disebabkan oleh manajemen yang kurang baik. Apabila munculnya di umur muda bisa dipastikan berkaitan dengan pemanasan selama masa brooding yang kurang optimal. "Untuk itu lakukan penyemprotan ayam, kandang dan kotoran dengan desinfektan.”
Seorang peternak yang mengaku telah puluhan tahun bergelut dengan ayam mengatakan, "Pelihara ayam dari starter sampai dengan grower jangan di kandang tanah. Karena alas kandang seperti sekam bila basah atau lembab dapat menjadi media penularan yang baik bagi berbagai macam penyakit.”
Tegasnya, serangan kolera dapat dihindari bila pemeliharaan ayam diatur dengan baik. “Litter harus sering dibolak-balik agar tidak menggumpal," kata seorang peternak menerangkan kiatnya dalam mencegah timbulnya penyakit ini di kandang.
Adapun untuk peternak yang tidak mau repot melakukan pekerjaan membolak-balik sekam pada lantai pertama kandang, ia lebih memilih kandangnya kandang panggung, bahkan ada yang mendirikan kandang di atas kolam. Dalam kandang kolam ini, kotoran ayam pun langsung jatuh jadi santapan ikan yang dipelihara dalam kolam.
Selain itu juga menjaga kebersihan tempat pakan dan minum dengan seri dicuci dan dibilas dengan desinfektan.
Kemudian kalau toh kasus Kolera terjadi juga, “Biasanya pada usia 27-30 hari pada broiler atau lebih dari 30 hari pada ayam jantan," ujar seorang praktisi.

Tidak Berdiri Sendiri

"Sebetulnya penyakit Kolera tidak berdiri sendiri karena adanya kuman semata, tetapi melibatkan faktor yang lain seperti halnya stres, perubahan musim dan adanya pembawa," kata seorang peneliti dari Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor.
Perlu diwaspadai pada musim penghujan seperti itu, penyakit lebih mudah menyerang termasuk kolera. Suhu udara yang cukup dingin menyebabkan daya tahan tubuh dan kondisi ayam tidak stabil. Pergantian suhu yang mendadak dapat menimbulkan stress yang berujung pada gangguan metabolisme tubuh sehingga membuka peluang masuknya agen penyakit, termasuk kolera itu.
Telah kita alami ketika curah hujan tinggi, suhu udara menjadi berubah-ubah dan lembab. Hal ini mempengaruhi kondisi kesehatan ayam. Oleh karena itu para peternak pun selayaknya mewaspadai kondisi ini dan senantiasa berjaga-jaga terhadap keselamatan ayamnya dan kemungkinan ayam terserang penyakit, seperti kolera, kolibasilosis, Gumboro, koksidiosis dan avian influenza.
Beberapa penyakit ini merupakan sebagian dari sekian banyak penyakit yang "mengantri" masuk ke dalam tubuh ayam. Hal ini sangat berati, meski ada yang mengatakan kolera tidak terlalu sering terjadi apabila dibandingkan dengan CRD, CCRD atau colibacillosis.
Seorang peternak yang populasi ternak ayamnya cukup besar dari Blitar, Jawa Timur mengatakan bahwa penyakit kolera ini sering terjadi pada waktu musim hujan. "Celakanya bila munculnya tidak sendirian, tetapi "bareng" dengan koli maupun koriza," papar seorang praktisi. Serangan Kolera pun menjadi kompleks bila disertai infeksi lainnya seperti E coli. Seorang peternak di Sumatera Utara, selain Kolera perlu diwaspadai juga penyakit lain yang muncul berikutnya mengikuti kolera, seperti CRD, colibacillosis dan coccidiosis.

Penularan

Dengan tidak pandang ‘bulu’nya Kolera itu, kebanyakan penularan Kolera terjadi melalui air minum yang tercemar oleh bakteri yang terdapat dalam cairan hidung, mulut, mata atau kotoran ayam penderita. Pada ayam pembibit jantan dapat menularkan bakteri melalui semen yang dihasilkannya.
"Penularan penyakit lebih banyak terjadi melalui lendir atau leleran yang keluar dari hidung sedangkan bakteri yang ada di dalam kotoran justru tidak aktif," ujarnya. Selain melalui lendir, penularan juga terjadi melalui perkawinan induk jantan dan betina. Tetapi penyakit ini hanya ditularkan secara horizontal, dari ayam sakit ke ayam sehat bukan secara vertikal dari induk ke anak
Para akademisi mengatakan bahwa kolera merupakan penyakit lingkungan karena banyak terkait dengan masalah kebersihan lingkungan. Untuk mencegah agar penyakit ini tidak muncul dan menimbulkan gangguan, pembenahan kandang dan lingkungannya harus mendapat perhatian peternak maupun anak kandang. Jika akan membangun kandang baru, jarak antar kandang sebaiknya juga dipertimbangkan un mengurangi penyakit menyebar.
Sirkulasi udara lebih baik dalam mengusir amoniak keluar dari kandang Sanitasi menggunakan desinfektan yang rutin dan terprogram perlu dilakukan, juga menghindarkan ayam dari hewan liar guna mencegah terjadinya penyakit. Jelasnya, untuk mengendalikan kasus ini selain memberikan pengobatan yang sesuai: faktor lain seperti stres dan manajemen juga harus mendapat perhatian. (YR/ berbagai sumber)

Roller coasters and lapdogs

There comes a point when one realizes that talking or writing about oneself becomes tiresome. Nothing I say or do will shorten this wait, efface this idleness, undermine my uselessness. So I remain patient, and enjoy the ride, despite being in a roller coaster car that is stuck at the top...

While I've posted several times on our eccentric behaviour towards pets, I'd like to continue on this subject. I think the single most important issue in canine medicine right now is the mental health of our dogs. Why are some dogs so darn miserable? Why can't they be walked on leashes? Why are they lunging at the other dogs in the park? Why are they destroying the furniture when we leave them alone? Why?!
Now here's the bottom line, folks. Ready? Listening (or reading rather)?: We've forgotten that our dogs are dogs. Let me say it again: we are not treating our dogs like dogs. In the last hundred years or so, and particularly during the last twenty or so-odd years, we have taken an evolved species and thrown it a major curve ball. Though a Siberian Husky and a Yorkshire Terrier are physically quite distinct, you'd hardly know it by looking at their genes. Remember, they are different breeds, but of the same species: Canis familiaris.
So while it would likely take six hundred Yorkies to pull a sled (on the lolls of the English countryside of course), the desire for a Yorkie to have a "job" is almost certainly there. Its job is not to be carried around in a purse (even if it's a fabulous Louis Vuitton). Its job is not to be put in a stroller, but rather to be walked, exercised, to heel, to sit when asked, and to wait quietly and confidently while his/her owner runs into Starbucks for a grandé, extra-hot, lactose-free, light foam, latté.
I guess you're starting to see my point. What has prompted me to write about this once again was my recent witnessing of an eccentric prominent Toronto couple (no names here though its soooo tempting) whom I see quite frequently, who were sitting enjoying a coffee with their Miniature Schnauzer resting on their lap. I don't really mind seeing a dog sitting on their owner's lap... usually. The problem here is that I've never seen this dog's paws actually touch the ground. These people were there for a considerable period of time and the dog never walked on, or touched, the ground. When they departed, they picked him up and whisked him away in their arms. It was gross. Of course, I felt terrible for the dog... While the owners' intentions may be noble, it is indeed abnormal, eccentric, behaviour which causes irreparable damage to the dog. Granted, I have not met this dog personally and do not know the status of his mental health.... However, I'll bet lots of money that these people rarely (if ever) leave this dog alone. More importantly, I don't think this dog can be left alone without manifesting severe separation anxiety. He needs help!
Think of all the dogs out there that are treated this way (and I'm not purporting that I would be the perfect dog owner). Their genes are speaking to them in one way, while we are showing them hieroglyphics. They just don't get it. What results are messed-up dogs.
Canine behaviours, such as aggression, are strongly affected by genetics. It is true that many traits, including behavioural ones, have been selected for in certain breeds, which have resulted in breeds that are typically more docile than others.
Consider the Labrador Retriever vs the Chinese Shar-pei (though I've met a few nasty Labs and the most spectacular Shar-peis!).
Genetics and environment play a complex role in shaping dog behaviour. There's not much we can dog about genetics (at least not with a particular individual) but we can certainly dictate or manipulate the dog's environment. So let's get on it already!

This is why I am a fan of Cesar Milan, the dog whisperer. Though he is not ubiquitously loved by all canine behaviourists, his fundamentals are tenable and sensical.

This may shock you but it was Cesar Milan who said that the healthiest dogs (mentally) are those owned by homeless people. I recently took particular notice of this. These dogs know exactly what they are and it couldn't be more..... refreshing (yet heart-wrenching) to see.


This dog is saner than a lapdog or one in a stroller. Of course, the entire image elicits a feeling of heaviness on my heart.

Bureaucratic obstacles

Bureaucracy and I don't really mix well. I'd like to take the entire roll of red tape and catapult it into the stratosphere. In my dreams perhaps....

A relevant stream of consciousness: anger, frustration, anxiety, confusion, resentment, delay, bureaucracy, incompetence, anticipation, excitement, idiocy, lunacy.

That is all for today's post.


The Average Bureaucrat, Salvador Dali, 1930.

Moving to New York City

A move to NYC is something I've been considering for quite some time now. Staying here, or rather not moving to NYC, simply became untenable for me.
NYC was always a place of fascination and inspiration for me. I think proferring an explanation for a move to New York is tautological - I mean it's New York, right?!
I'll be living in Brooklyn, facing the harbour just south of Manhattan, with a view of the Statue of Liberty and her colossal, oxidized, copper torch raised to the skies, an indelible image from my childhood...

My move is slated for the 1st of August, 2008.

More to follow...



My view of her isn't this good.

Pro/PreBiotik, Asam Organik dan Enzim

(( Penciptaan produk-produk zat aditif baru dengan nilai ekonomis tinggi serta mampu bersaing di pasar masih terbuka lebar bagi industri pakan dengan nilai bisnis yang cukup besar. ))

Beberapa alternatif zat aditif pengganti antibiotik telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi seperti pro- dan prebiotik, asam-asam organik, minyak esensial (essential oil) dan berbagai jenis enzim.

Senyawa-senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tanpa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya. Bagaimana menjelaskan masing-masing?


Pro- dan Prebiotik

Lingkungan menyenangkan untuk pertumbuhan bakteri menguntungkan (penurunan pH dengan memproduksi asam laktat) akan tercipta dengan mensuplai probiotik pada ransum ternak.

Bakteri asam laktat seperti Lactobacillus bulgaricus, Lactobacilus acidophilus, Bifidobacteria thermophilum dan jenis fungi seperti Saccharomyces cerevisiae adalah contoh-contoh probiotik yang telah diproduksi secara komersial.

Probiotik pun dapat mengurangi produksi racun dan menurunkan produksi amonium dalam saluran pencernaan. Fungsi zat aditif ini tidak jauh berbeda dengan antibiotik yaitu mengatur komposisi mikroflora dalam saluran pencernaan.

Adapun prebiotik adalah oligosakarida yang tidak dapat dicerna oleh hewan monogastrik (ayam dan babi). Senyawa ini digunakan sebagai substrat untuk merangsang pertumbuhan bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli.

Pemberian 0,1 – 0,5% dalam ransum dapat meningkatkan bakteri yang menguntungkan dan menurunkan populasi bakteri yang merugikan.

Dalam penerapannya, penggunaan pro- dan prebiotik bukan merupakan hal baru dalam dunia peternakan.


Asam-asam Organik

Perkembangan biotekhnologi yang begitu pesat mengilhami industri-industri pakan ternak untuk memproduksi asam-asam organik dalam bentuk komersial seperti asam asetat, propionat laktat dan citrat yang dikemas dalam bentuk cair.

Asam-asam organik sebenarnya diproduksi secara otomatis dalam tubuh ternak melalui proses fermentasi selanjutnya digunakan sebagai sumber energi.

Penambahan asam-asam organik dalam pakan ternak dapat meningkatkan produktifitas ternak. Peningkatan performance ternak terjadi melalui penciptaan lingkungan yang serasi bagi perkembangan mikroflora menguntungkan.

Dengan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri tertentu (melalui penurunan keasaman) dapat mengaktifkan serta merangsang produksi enzim-enzim endegenous dan berakibat meningkatnya absorbsi nutrisi dan konsumsi pakan untuk pertumbuhan, produksi dan reproduksi.


Minyak Esensial (Essential oil)

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keaneka ragaman sumber daya alam hayati. Berbagai hasil penelitian menunjukkan potensi Indonesia melalui penambahan minyak esensial dalam pakan ternak.

Penambahan minyak esensial dalam pakan ternak ini dapat memperbaiki performance ternak melalui meningkatnya nafsu makan ternak, meningginya produksi enzim-enzim pencernaan serta stimulasi antiseptik dan antioksidan dari minyak atsiri tersebut.

Saat ini dikenal lebih kurang 2600 jenis minyak esensial yang dihasilkan melalui ekstraksi berbagai jenis tanaman. Jamak diketahui bahwa setiap tanaman mempunyai komponen bioaktif yang spesifik.

Di dalam tubuh makhluk hidup senyawa bioaktif tersebut mempunyai aktifitas microbial, sebagai antioksidan, bersifat antibotik dan juga meningkatkan kekebalan tubuh.

Beberapa contoh minyak esensial yang terdapat pada tanaman misalnya cinnamaldehyde (cinnamon), eugenol (clove), allicin (garlic) dan methol (peppermint).


Enzim

Walaupun dalam tubuh makhluk hidup enzim dapat diproduksi sendiri sesuai dengan kebutuhan, penambahan enzim pada ransum kadang kala masih dibutuhkan. Saat ini telah terindentifikasi lebih kurang 3000 enzim.

Enzim sendiri merupakan senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa-senyawa yang komplek menjadi sederhana.

Beberapa faktor menjadi pemicu munculnya kebutuhan ini. Misalnya, antinutrisi faktor pada bahan pakan (lekctins dan trypsin inhibitor), rendahnya efesiensi kecernaan bahan pakan, dan ketidak tersediaan enzim tertentu dalam tubuh ternak.

Xylanase dan ß-glucanase adalah contoh-contoh enzym yang digunakan pada ternak monogastrik untuk meningkatkan daya cerna ternak.

Penambahan enzim protease dapat untuk mengatasi rendahnya kemampuan ternak muda untuk mencerna protein pada kacang kedele (glycin dan ß-conglycin).

Bahan-bahan baku pakan yang kaya karbohidrat seperti gandum, barley, jagung dan lainnya, mengikat unsur phosphor dalam bentuk asam phytat (myo-inositol hexaxy dihidrogen phosphat) sehingga tidak mampu dicerna oleh ternak. Phytase sebagai enzim yang mampu meningkatkan penyerapan posphor dapat dipikirkan sebagai alternatif.

Dengan mensuplai phytase yang berasal dari Aspergillus atau Trichoderma strains dalam ransum ternak dapat meningkatkan ketersediaan phospor, Ca, Zn dan asam amino bagi ternak. Polusi lingkungan melalui Eutropication juga dapat dicegah dengan penambahan phytase dalam pakan ternak.

Penciptaan produk-produk zat aditif baru dengan nilai ekonomis tinggi serta mampu bersaing di pasar masih terbuka lebar bagi industri pakan dengan nilai bisnis yang cukup besar. (Samadi/Inovasi/YR)

Antibiotik dalam Pakan Ternak

(( Dengan klasifikasi jenis mikro-organisma dalam saluran pencernaan manusia, diketahui peranan penting berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup yang dapat diseimbangkan dengan antibiotika. Lalu, mengapa ada pelarangan penggunaan Antibiotik pada pakan ternak? ))


Sejujurnya, dengan berbagai kasus mutu yang kita jumpai di lapangan, Indonesia masih bermasalah dalam soal jaminan pasti bagi konsumen untuk mengkonsumsi produk-produk ternak yang terbebas dari pencemaran?

Makanan sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan angka harapan hidup suatu negara, masih acap dibelit persoalan kesadaran yang kurang dari para konsumen terhadap produk ternak yang terbebas dari residu kimia (antibiotik, alfatoksin, dioxin) dan mikrobiologi berbahaya (salmonella, enterobacteriaceae dan BSE-carriers).

Acapkali kita mesti menengok dengan apa yang terjadi di negara-negara maju, di mana di sini kualitas kontrol bahan pakan terus dilakukan oleh pemerintah secara berkala
melalui system HACCP (hazard analyis and critical control points) sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah tersusun secara sistematis dan disepakati bersama.


Antibiotik dalam Pakan Ternak

Sejak ilmuan berkebangsaan Rusia Metchnikoff (1908) berhasil mengklasifikasi jenis mikro-organisma yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia, makin terkuak lebar peranan penting akan berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup.

Keseimbangan antara bakteri-bakteri yang menguntungkan dan merugikan dalam saluran pencernaan sepatutnya menjadi perhatian lebih demi terciptanya hidup yang sehat bagi manusia dan produksi yang tinggi bagi ternak.

Keseimbangan populasi bakteri dalam saluran pencernaan (eubiosis) hanya dapat diraih apabila komposisi antara bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli dan yang merugikan seperti Clostridia setidaknya 85% berbanding 15%.

Dengan komposisi tersebut fungsi “barrier effect“ mikroflora yang menguntungkan dalam tubuh makhluk hidup dengan cara mencegah terbentuknya koloni bakteri phatogen (colonisation resistence) bisa teroptimalkan.

Ketidakseimbangan populasi antara bakteri yang menguntungkan dan merugikan (dysbiosis) berakibat turunnya produksi ternak.

Salah satu cara memodifikasi keseimbangan bakteri di dalam saluran pencernaan adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotik dipercayakan dapat menekan pertumbuhan bakteri-bakteri phatogen yang berakibat melambungnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan.

Tingginya mikroflora menguntungkan tersebut dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial, asam lemak bebas dan zat-zat asam sehingga terciptanya lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri phatogen.

Namun disayangkan penggunaan antibiotik berakibat buruk bagi ternak dikarenakan resistensi ternak terhadap jenis-jenis mikro-organisme phatogen tertentu. Hal ini telah terjadi pada peternakan unggas di North Carolina (Amerika Serikat) akibat pemberian antibiotik tertentu, ternak resisten terhadap Enrofloxacin yang berfungsi untuk membasmi bakteri Escherichia coli.

Di bagian lain residu dari antibiotik akan terbawa dalam produk-produk ternak seperti daging, telur dan susu dan akan berbahaya bagi konsumen yang mengkonsumsinya.

Seperti dilaporkan oleh Rusiana dengan meneliti 80 ekor ayam broiler di Jabotabek menemukan 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamycin.

Penggunaan senyawa antibiotik dalam ransum ternak pun menjadi perdebatan sengit oleh para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan tidak hanya bagi ternak tetapi juga bagi konsumen yang mengkonsumsi produk ternak tersebut melalui residu yang ditinggalkan baik pada daging, susu maupun telur.

Beberapa negara tertentu telah membatasi penggunaan zat aditif tersebut dalam pakan ternak seperti di Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, Jerman tahun 1996 dan Swiss tahun 1999.

Selanjutnya pada 1 Januari 2006 Masyarakat Uni Eropa berdasar regulasi nomor 1831/2003 menetapkan tonggak pemusnahan berbagai macam antibiotik di mana selama beberapa dekade belakang merupakan substans yang kerap digunakan oleh peternak di berbagai belahan dunia.

Tidak dapat dipungkiri sejak digunakannya antibiotik sebagai senyawa promotor pertumbuhan dalam pakan ternak, telah terjadinya peningkatan pendapatan peternak berkat kemampuan senyawa tersebut mengkonversikan nutrisi dalam pakan secara efisien dan efektif.

Akan tetapi, pelarangan tersebut tidak menyeluruh hanya terbatas pada jenis antibiotik tertentu misalnya avoparcin (Denmark), vancomycin (Jerman), spiramycin, tylosin, virginiamycin dan chinoxalins (Uni Eropa).

Hingga kini, hanya tersisa empat antibiotik yang masih diizinkan penggunaannya dalam ransum ternak pada masyarakat Eropa yaitu flavophospholipol, avilamycin, monensin-Na dan salinomycin-Na.

Berbagai upaya telah dilakukan bertahun-tahun untuk mencari bahan tambahan dalam pakan ternak sebagai pengganti antibiotik yang berbahaya tersebut.


Bahan Aditif Pengganti Antibiotik

Konsep pakan ternak berdasarkan kualitas semata (kebutuhan energi dan protein ternak) mulai ditinjau ulang oleh nutritionis akhir-akhir ini. Tuntutan konsumen akan produk ternak yang sehat, aman dan terbebas dari residu berbahaya telah mengajak ilmuan untuk mencari alternatif sumber-sumber pakan baru sekaligus zat aditif yang aman.

Konsumen rela membayar dengan biaya berlipat demi mendapat makanan yang sehat, aman dan terbebas dari residu kimia. Produk pertanian dan peternakan alami tanpa menggunakan secuilpun bahan kimia dalam bahasa Jerman dikenal “okologische produkte” mulai mempunyai pasar tersendiri. “Feed quality for food safety“ merupakan slogan yang acap di dengungkan dimana-mana pada masyarakat Eropa termasuk Jerman.

Kerja keras berbagai pihak dalam usaha menemukan zat aditif pengganti antibiotik telah membuahkan hasil yang tidak begitu mengecewakan. Senyawa-senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tampa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya.

Beberapa alternatif zat aditif pengganti antibiotik telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi seperti pro- dan prebiotik, asam-asam organik, minyak esensial (essential oil) dan berbagai jenis enzim. (Samadi/ Inovasi/ YR)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls