Showing posts with label Perunggasan. Show all posts
Showing posts with label Perunggasan. Show all posts

DODO BIRDS


Dodos have been extinct for a long time, like since about 1690.  They are very famous for being extinct, so people say things like "dead as a dodo" or "go the way of the dodo."  There's a lot we don't know for sure about dodo birds, like whether they were fat, like in most of the pictures of them, or whether they were really thinner and more able to run fast.

We don't even know for sure where the name dodo came from.  The Dutch people who were the first ones to describe the birds, called them walghvogels, which means "wallow birds" or "loathsome birds."  They called them this because dodos weren't very yummy to eat.  Later on, the name dronte was used for the birds, and this word is still used for them in some languages today.  But the word dodo itself might have come from the Dutch word dodoor ("sluggard") or dodaars ("knot-arse").  The birds had a knot of feathers on their hind ends, and that is why they were called "knot-arse," which I think is a very funny word.  Mom says it sounds like somebody who is anal retentive, whatever that means.  But anyway, some dictionaries say that dodo comes from the old Portuguese word doudo, which means "fool" or "crazy."  And this might be right, because nowadays we call people dodos if we think they are kind of dumb or silly.


Dodo birds lived in just one place, which was the island of Mauritius.  And in case you don't know where this island is, I found a nice map to show you that it is in the Indian Ocean, east of the big island of Madagascar, which is off the east coast of Africa.  No one is totally sure how the dodos came to be there, but scientists have done a bunch of DNA testing, and what they found out was that dodos are very distant relatives of some pigeons from Asia.  So they think that some of these migrating pigeons got lost on their way to Africa, and they decided to just stay in Mauritius.  Which was a very good decision at the time, because there was plenty of fruit to eat and no predators.  And over time, the dodos got so they couldn't fly, because they didn't need to, and they made their nests on the ground.


The dodos were about 3.3 feet tall, and they weighed 44 pounds.  When the first explorers arrived in Mauritius in the 1500s, they thought the dodos were stupid because they weren't afraid of humans.  But the dodos might not have been stupid at all.  I think they were probably very clever and curious, and they   just didn't know they were supposed to afraid of humans.  In 1606, Cornelis Matelief de Jonge wrote descriptions of Mauritius and the animals and plants there.  Here's what he said about the dodo:

Blue parrots are very numerous there, as well as other birds; among which are a kind, conspicuous for their size, larger than our swans, with huge heads only half covered with skin as if clothed with a hood. These birds lack wings, in the place of which 3 or 4 blackish feathers protrude. The tail consists of a few soft incurved feathers, which are ash coloured. These we used to call ' Walghvogel,' for the reason that the longer and oftener they were cooked, the less soft and more insipid eating they became. Nevertheless their belly and breast were of a pleasant flavour and easily masticated.




When people started coming to Mauritius to live, they brought dogs, pigs, cats, rats, and macaques with them.  Macaques are a type of monkey that usually lives in Asia or Africa.  Anyway, all these new animals found the nests of the dodo birds, which were on the ground and easy to get to, and ate the eggs and baby birds.  Meanwhile, the humans hunted the dodos, but they might not have done a whole lot of that since dodos weren't very tasty.  But what the humans also did was they cut down the forests where the dodos liked to live.  And after a while, the dodo went extinct.




But then guess what else happened.  There is this tree in Mauritius, and it is called the Calvaria tree, and it lives for hundreds of years.  And many, many years after the dodos went extinct, people started noticing that the Calvaria seeds weren't sprouting, so when the old trees died, there were no new ones to take their place.  And finally people figured out that this was happening because there were no more dodos around to eat the Calvaria fruit and poop out the seeds.  Because it turned out that while the seeds were inside the dodos, their hulls got partly digested, and this made it so the seeds could sprout.  But then somebody figured out that turkeys could eat the Calvaria fruit and this would help the seeds sprout, just like what used to happen with the dodos.  So the Calvaria trees did not go extinct, even though they almost did.


So that is the sad story of the dodos that went extinct, and also the story of the Calvaria trees that didn't.  And it all goes to show that when you mess with one part of nature, you might be messing up something else that you never meant to mess up at all!


SEMINAR SPESIFIK PERUNGGASAN DALAM KRISIS GLOBAL

Infovet

Lipsus
SEMINAR SPESIFIK PERUNGGASAN DALAM KRISIS GLOBAL

(( Mengingkat topik seminar kali ini yang sangat spesifik, dalam seminar ini, panitia secara khusus mengundang Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo yang akan menyampaikan materi mengenai Dampak Dalam Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia. ))

Pada Seminar Nasional Perunggasan ketiga yang diselenggarakan oleh ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) pada 7 Nopember 2007 diperoleh data poduksi DOC broiler tahun 2008 diproyeksikan 1,25 miliar ekor, naik 8,7% dibanding tahun 2007. Adapun, populasi ayam petelur diproyeksikan 104,8 juta atau naik 7,7% dibanding tahun 2007. Sedangkan, konsumsi pakan tahun 2008 diperkirakan 8,13 juta ton, naik 7% dibanding tahun 2007.
Demikian Ketua Umum ASOHI Gani Haryanto. Seminar Nasional Tahunan Ke-4 pada 11 Desember 2008 para pembicara pun mengevaluasi data bisnis perunggasan 2008 dan memprediksi bisnis perunggasan 2009 sehingga dapat dijadikan acuan dalam menyusun rencana bisnis tahun 2009. Bagi para akademisi dan aparat pemerintah, seminar ini merupakan sumber informasi penting untuk kajian ilmiah dan kebijakan pemerintah.
Seminar bertema Dampak Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia di Jakarta Design Center ini berlatar belakang, krisis Global yang dimulai dari Amerika Serikat berdampak ke hampir semua negara di dunia. Beberapa analis memprediksi, dampak bagi sektor riil baru akan terasa di Indonesia pada tahun 2009.
Menurut Gani Haryanto, pada 2009 pula suhu politik Indonesia mulai memanas, terutama menjelang Pemilu yang akan berlangsung tanggal 5 April 2009 yang mau tidak mau harus diperhitungkan dampaknya bagi berbagai bidang bisnis, tak terkecuali bidang perunggasan. Alhasil 2009 adalah tahun yang penuh teka teki. Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana stabilitas nilai tukar rupiah sebagai dampak krisis global, bagaimana stabilitas ekonomi akibat pemilu dan pergantian kabinet, dampak krisis energi dan sejumlah masalah lainnya.
ASOHI menyelenggarakan seminar nasional perunggasan ini secara berkesinambungan setiap tahun. Mengingkat topik seminar kali ini yang sangat spesifik, dalam seminar ini, panitia secara khusus mengundang Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo yang akan menyampaikan materi mengenai Dampak Dalam Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia.
Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo adalah seorang pakar, praktisi bisnis sekaligus politisi berpengalaman. Beliau adalah Menteri Perumahan Rakyat (1998-1993), Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998), calon Wapres pada Pilpres 2004, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) 1999-2004, Ketua Badan Pertimbangan HKTI (2004-sekarang), Komisaris PT Bangun Tjipta Sarana (1998-sekarang) dan berbagai pengalaman lain di forum nasional maupun internasional. Pengalaman dan pemikirannya akan membuat analisanya mengenai krisis global dan suhu politik sangat bermanfaat bagi para pelaku bisnis perunggasan.
Selain Siswono Yudho Husodo, seminar menghadirkan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Drh. Paulus Setiabudi, Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Drh. Askam Sudin, Dewan Kode Etik Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh. Lukas Agus Sudibyo, Ketua Umum Pusat Informasi Pemasaran Unggas (Pinsar) Drh. Hartono. Seminar dibuka oleh Ketua Umum ASOHI Gani Haryanto.
Ketua Panitia Penyelenggara seminar yang juga Ketua Bidang Antar Lembaga ASOHI Drh. Suhandri mengharapkan seminar ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pelaku bisnis, peneliti maupun aparat pemerintah, karena melalui seminar ini akan diperoleh berbagai informasi tentang perkembangan bisnis perunggasan 2008 dan prediksi 2009.
Bagi para pelaku bisnis perunggasan analisis yang disampaikan para pembicara diharapkan dapat dijadikan acuan dalam mengevaluasi bisnis 2008 dan menyusun rencana bisnis 2009. Bagi para pakar dan akademisi, seminar ini diharapkan dapat menjadi masukan penting bagi mereka dalam melakukan kajian dan penelitian lebih lanjut. Dan bagi kalangan birokrat baik dari pusat maupun daerah, seminar ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat untuk menciptakan iklim usaha yang lebih baik.
Selain mengungkapkan perkembangan bisnis perunggasan Indonesia, diharapkan para pembicara seminar menyampaikan gagasan-gagasannya untuk perbaikan bisnis perunggasan di masa depan. Gagasan-gagasan tersebut dirangkum oleh tim perumus yang selanjutnya akan diteruskan kepada pihak yang terkait dalam waktu dekat. (Panitia/ YR)

Mengapa Harga Ayam Mahal?

Ekonomi Bisnis Infovet 171 Oktober 2008

Mengapa Harga Ayam Mahal?



(( Harga produksi ayam kita lebih mahal dibanding negara-negara lain, kita perlu mengupayakan langkah-langkah koreksi. ))


Untuk memproduksi daging ayam 1 kg di Indonesia, biaya nya masih lebih mahal bila dibandingkan dengan negara lain seperti USA, Brazil, dan lain-lain. Demikian Drh Suhartono dari PT Japfa Comfeed di Makasar mengatakan bahwa mahal bukan nilai uangnya kita membeli mahal, tetapi semata atas perbandingan yang tidak sesuai.

Suhartono mengungkap perbandingan ongkos produksi broiler Dolar Amerika/kg: Belanda0.98 USD/kg, India 0.60, France 0.99, England 1.05, USA 0.62, Brazil 0.58 USD/kg. Kata Suhartono, "Kalau sekarang harga broiler Rp. 11,000 kan berarti per ekor ayam kira-kira 1.2 USD/kg."

Menurut Drh Andhi Trapsilo, penyebab harga ayam mahal ini karena biaya produksinya sudah tinggi, di mana mencakup harga bibit, obat-obatan, dan pakan. Juga didorong oleh tingginya permintaan konsumen apalagi pada saat menjelang lebaran seperti ini pasti harga mahal sekali. Di sisi lain pasti juga akan menguntungkan bagi para peternak.

Harga jual ayam ini, "Tergantung pada mekanisme pasar. Pedagang tergantung harga penunjangnya, mobilitas, atau kalau mau cepat kaya. Pedagang-pedagang yang lain tergantung harga minyak dunia serta komoditas penunjangnya," katanarasumber berinisial Galiman.

Harga pakan dan obat sudah tidak dapat dipungkiri, "Memang sudah standartnya seperti itu, mau tidak mau peternak tetap harus mengeluarkan isi kantong untuk memenuhi kebutuhan ternak ayamny berupa pakan dan obat," kata Yadi Cahyadi Sutanto.

Dalam hal inilah peternak yang menentukan biaya operasional peternakannya, tuturnya, "Perlu kecerdikan dan sedikit intuisi yang tajam dalam mencari celah supaya peternakannya tetap berjalan baik, ternak sehat, tetapi tidak terlalu banyak menguras isi kantong."

Pada suatu kesempatan dalam beberapa bulan Yadi Cahyadi Sutanto melakukan penelitian dengan hewan coba ayam -layer lebih tepatnya-. "Menurut pemikiran saya peternaklah yang cukup memiliki andil dalam penentuan harga ayam," katanya.

Yadi menambahkan, "Ada satu pengalaman yang pernah saya dengar dari seorang senior di kampus saya tentang bagaimana beliau mengakali pemakaian litter supaya bisa tetap
berhemat dan memang dari caranya tersebut beliau bisa benar-benar mengurangi
biaya operasional."

Peternak perlu menganalisa sendiri, "Bagaimana perkembangan manajemen peternakannya, karena pada dasarnya ternak seperti halnya manusia juga membutuhkan pakan dan beberapa obat tertentu supaya bisa tetap hidup dan berkembang," tutur Ahmaraning Wahyu dari FKH Universitas Airlangga seraya menuturkan yang paling menyebabkan harga mahal yang paling tepat mungkin Pemerintah dan Konglomerasi yang sudah mengarah ke Kartel.

Adapun Veronica Umboh mengungkap harga ayam mahal jelas karena skenario global para kaum modal. "Jika saja daya serap pasar lemah sudah pasti akan terkoreksi dengan sendirinya. Namun demikian jika memang komoditi itu sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat modern, sangat sulit harga untuk turun secara signifikan. Berdoalah saja agar petani jagung dan padi merasakan dampak positif dari naiknya harga ayam," tutur Veronica.

Adapun narasumber lain Junta Emilia Sondakh mengungkap harusnya kita bergembira ria, karena para peternak bisa mendapatkan laba untuk menyambung usaha dan membesarkan skala usahanya. "Harus kita terima dan syukuri. Lebih baik mahal dari pada murah, tapi peternak bangkrut," katanya.

Sesuai hukum ekonomi, "Harga pasar ditentukan oleh perbandingan ketersediaan barang dan tuntutan pasar. Kalau banyak peternak gulung tikar karena ada flu burung trus ayam-ayam dimusnahkan, pakan, obat dan transportasi mahal. Lalu ada rentenir dan tengkulak beli ayam yang masih muda terus digelonggongin, maka di pasar harga ayam jadi mahal," papar Drh Silfiana Ganda Kesuma.

Drh Suhartono kembali mengingatkan bahwa mahal bukan nilai uangnya kita membeli mahal, tetapi semata atas perbandingan yang tidak sesuai. Maka untuk ke depannya, kita selalu butuh data yang selalu diperbarui, dan langkah-langkah koreksi di semua lini. (dokter_hewan/ YR)

Ketika Ayam Dijual Murah

Peristiwa Infovet edisi 175 Oktober 2008

Ketika Ayam Dijual Murah


(( Sebuah dilema muncul lagi ketika menjumpai ayam dihargai murah. Benarkah daging itu baik dan sehat? Padahal kita ingin ayam murah, sehat dan segar. ))


Drh Suhartono dari PT Japfa Comfeed Makassar mengungkap kalau harga ayam hidup 13000 per kg di pasaran, maka menjadi karkas harga 20800 per kg. Katakanlah dibagi menjadi 8 potong maka harga per potong menjadi 2,600 rupiah. Jadi, menurut Hartono, “Masih masuk akal kalau ada penjual nasi + ayam goreng + teh botol = 7500 rupiah.”

Itu baru karkas, kata Hartono, “Belum jerohan (hati empela), kepala leher atau pun ceker yang harganya jauh lebih murah dari pada karkas utuh. Kalau potongan nyalebih kecil lagi misalnya dibagi menjadi 12 kan jatuhnya lebih murah lagi.”

Drh Junta Emilia Sondakh mengungkap daging ayam yang sudah murah masih banyak yang meragukan kesegarannya, makanya daging sapi limbah hotel yang pantas untuk orang miskin. Harus diakui seperti ayam yang mati di kandang dalam pengangkutan dan di pedagang besar sebelum masuk ke pemotong benar adanya.

Menurutnya, hitungan Drh Suhartono memang masuk akal, tapi, “Apa ya mau konsumen makan dengan sekerat nyaris mirip jari manis untuk lauk, pedagang nasipun tidak tega menjual sekerat. Maka disediakan yang agak layak mesti tidak bisa dibantah asal daging ayam dari tiren. Ini fakta kok.”

Coba tengok di pasar ayam, lanjut Junta Emilia Sondakh, pengepul berapa puluh ekor ayam tiren setiap hari. Apa mereka mau merugi? Dengan alasan untuk pakan lele, atau untuk buaya. Jumlahnya berapa untuk kebutuhan konsumen lele dan buaya? Hendaknya fakta ini jangan dinafikan. Hanya itu permasalahannya.”

Namun demikian sebuah fakta yang tidak terbantahkan bahwa banyak ayam mati di kandang, dalam pengangkutan dan juga ketika berada di pangkalan. Demikian Christian Admiral Janggel mengungkap, “Jadi khusus daging ayam banyak sekali beredar daging ayam bangkai (tiren) yang sulit untuk dicarikan jalan keluar.”

Lanjutnya, “Apakah masuk akal jika kita makan di stasiun kereta, terminal dengan 5000-7500 per porsi dengan daging ayam segar? Jelas tidak masuk akal, karena dari mana penjual nasi itu dpt untung kalau memnag daging ayamnya tidak dari ayam bangkai. Kembali tentang daging sampah dari hotel dan restauran, itu hanya pucuk dari gunung es.

Memang baru-baru ini dijumpai daging sisa restoran dan hotel di Jakarta ada yang didaur ulang lalu dijual di pasar-pasar tradisional dengan harga relatif murah. Ditemukan daging yang dipungut dari tempat sampah dijual dalam bentuk olahan seperti bakso, rendang dan sop. Makanan olahan berbahan daging daur ulang, bisa dilihat sekilas, sama dengan makanan olahan berbahan daging segar. Sebelum dijual di pasar, daging sisa tersebut diberi pewarna agar mirip daging segar. Pewarna yang digunakan adalah pewarna pakaian.

Kronologisnya pemulung memilah sisa makanan dari hotel ataupun restoran, lalu mengirim daging sisa itu ke tempat pedagang makanan untuk diolah dengan membayar rp 100.000 ke setiap pemasok yang kemudian mengolah daging itu secara dicuci dengan formalin, direbus dan digoreng, diberi warna dengan cara disepuh, selesai diwarna daging siap dijual di pasar.

Dr Drh Denny Lukman MSc pakar Kesmavet dari FKH mengungkap sangat memprihatinkan dan menyedihkan kondisi makanan kita, khususnya pangan asal hewan. Kekurang pahaman sebagian masyarakat, ketidakpedulian produsen dan konsumen, serta kelemahan pengawasan dari pemerintah membuat hal ini terjadi.

Dari aspek kesmavet, kata Drh Denny Lukman, “Daging "sampah" ini sangat tidak layak dikonsumsi manusia, mengingat daging tersebut sudah dibuang, bersatu dengan sampah lain, dan kemungkinan terjadi proses pembusukan/kerusakan yang menjadikan daging tidak layak dan bahkan memungkinkan mengganggu kesehatan konsumen.”

Gangguan kesehatan yang mungkin muncul, lanjut Denny, “Antara lain diare, muntah, pusing, dan dalam jangka waktu lama muncul gangguan hati, ginjal dan saluran pencernaan, munculnya kanker. Hal ini mungkin jika proses pengolahan ditambahkan bahan-bahan yang bukan untuk pangan (pengawet formalin, zat warna tekstil). Bahan-bahan tersebut bersifat karsinogenik.”

Dari aspek hukum, maka praktek tersebut melanggar pasal-pasal di undang-undang pangan nomor 7 tahun 1996 dan undang-undang perlindungan konsumen nomor 8 tahun 1999.

Pasal yang dilanggar dalam uu pangan adalah Pasal 6 setiap orang yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi, penyimpangan, pengangkutan, dan atau peredaran pangan wajib: memenuhi persyaratan sanitasi, keamanan, dan atau keselamatan manusia;

Lalu Pasal 10 di mana setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dan dilarang menggunakan bahan apa pun sebagai bahan tambahan pangan yang dinyatakan dilarang atau melampui ambang batas maksimal yang ditetapkan.

Kemudian Pasal 21 di mana setiap orang dilarang mengedarkan pangan yang mengandung bahan beracun, berbahaya atau yang dapat merugikan atau membahayakan kesehatan atau jiwa manusia pangan yang mengandung bahan yang dilarang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan; pangan yang mengandung bahan yang kotor, busuk, tengik, terurai, atau mengandung bahan nabati atau hewani yang berpenyakit atau berasal dari bangkai sehingga menjadikan pangan tidak layak dikonsumsi manusia

Adapun sanksi Undang-Undang Pangan: Pasal 55 barang siapa dengan sengaja melanggar pasal 10 dan 21 dpt dikenakan pidana penjara maksimal 5 tahun dan atau denda paling banyak 600 juta rupiah.

Lalu Pasal 56 barang siapa dengan kelalaiannya, melanggar pasal 10 dan 21, dapat dikenakan pidana penjara maksimal 1 tahun dan atau denda paling banyak 120 juta rupiah.

Kemudian Pasal 59 barang siapa yang melanggar pasal 6 dapat dikenakan pidana penjara maksimal 4 tahun dan atau denda paling banyak 480 juta rupiah.

Pasal yang dilanggar dalam uu perlindungan konsumen adalah Pasal 8 (1) pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan barang dan atau jasa yang (b) tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundangan (3) pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak, cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar.

Sanksi pelanggaran pasal 8, sesuai pasal 62 akan dikenakan pidana penjara maksimal 5 tahun atau pidana denda paling banyak 2 milyar rupiah. Sedangkan dari aspek kesmavet, hal ini juga melanggar pp nomor 22 tahun 1983 tentang kesmavet. Sayangnya dalam pp ini tidak ada sanksi.

Berdasarkan kasus ini, Drh Denny Lukman berpendapat memandang perlu dan urgen adanya rencana dan implementasi sistem pasar sehat. Tentunya sistem ini disusun oleh berbagai instansi, perguruan tinggi, organisasi-organisasi. Perlu dirumuskan pengawasan dan penanggung jawab. Sistem pasar sehat ini harus mampu menjamin (1) tersedianya pangan yang aman, layak dan halal; (2) kesehatan manusia/masyarakat (dicegah dari penularan penyakit zoonotik yang ada pada hewan hidup yang dijual di pasar, dicegah dari kasus foodborne illness akibat konsumsi pangan asal hewan); (3) kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar pasar.

Selain itu, “Perlu adanya peraturan dan pengawasan tentang sampah makanan hotel-restoran yang diperuntukkan untuk pakan hewan. Hal ini untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan serta menjaga kesehatan ternak yang akan diberikan pakan tersebut,” tambah Drh Denny.

Drh Denny menegaskan, “Saya berharap agar pemerintah memiliki komitmen tinggi untuk menuntaskan masalah ini, serta mendidik konsumen dan pedagang untuk meningkatkan rasa kepedulian dan tanggung jawab demi terwujudnya keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.”

Mudah-mudahan setiap momentum yang ada apapun momentumnya, kata Iwan Berri Prima dari FKH IPB, “Terutama yang terkait dengan bahan pangan asal hewan/ kesmavet, mampu kita maknai sebagai bentuk pentingnya otoritas veteriner yang tegas, jelas dan lugas di negara ini. (dokter_hewan/ YR)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls