Showing posts with label Pakan Ternak. Show all posts
Showing posts with label Pakan Ternak. Show all posts

STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN

Infovet

JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK

(( Kandungan-kandungan zat pakan dalam jerami padi inilah yang digertak kondisinya dengan enzim xilanase. Alhasil, kandungan seratnya menurun. Segangkan protein kasarnya meningkat, sehingga kandungan gizinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. ))

Jerami padi biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Terlebih bila musim kemarau menjerang. Sayangnya kandungan nutrisi dan kecernaannya rendah, apalagi bila dibandingkan dengan pakan hijauan. Hal ini lantaran tingginya kadar serat kasar sebagai penyusun dinding sel tanaman. Juga rendahnya kadar protein serat kasarnya.

Mengingat jerami padi mudah didapatkan sebagai alternatif pakan ternak, peternak acap mengupayakan perbaikan potensi pakan jerami padi ini. Ahli pakan ternak Mirni Lamid dari Departemen Peternakan FKH Unair Surabaya memberi jalan perbaikan ini dengan perlakuan biologi mengunakan enzim xilanase.

Kata Mirni Lamid, perlakuan biologi menggunakan enzim xilanase pada jerami padi itu selain ramah lingkungan juga mampu memperbaiki potensi pakan berserat. Proses kimianya adalah dengan mengubah struktur ligno selulosa dan lignohemiselulosa.

Sehingga, “Akan lebih memudahkan degradasi fraksi hemiselulosa pada jerami padi secara efisien dan optimal,” kata Mirni Lamid. Dari hasil penelitiannya, penambahan enzim xilanase dengan waktu inkubasi 2 hari dapat menurunkan kandungan serat dan meningkatkan kandungan protein kasar.

Manfaatnya, menurut Mirni Lamid, penggunaan enzim Xilanase dapat memberi respon positif dalam peningkatan kualitas jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia tersebut. Mengapa bisa demikian, ahli pakan ternak itu menjelaskan semua berdasar penelitiannya.

Enzim Xilanase sebagaian besar dihasilkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan fungi. Kelompok enzim glikosil hidrolase mampu memecah ikatan glikosidik pada xilan dengan kecepatan lebih dari 10 pangkat 17 kali. “Oleh sebab itu, keberadaan enzim ini memegang peranan penting dalam mendegradasi limbah yang kaya hemiselulose,” kata Mirni Lamid.

Hemiselulose merupakan polisakarida struktural sel tanaman terbanyak kedua setelah selulose. Komponen hemiselulose terpenting dari sel tanaman adalah xilan tersebut. Xilan tersusun atas rantai polixilos membentuk heteropolisakadrida bercabang yang sulit didegradasi oleh mikroba rumen.

Dalam penelitian Mirni Lamid tersebut, ia melalui tahap-tahap esksplorasi enzim xilanase untuk mengetahui optimasi pH dan suhu. Kemudian uji potensi enzim xilanase dalam upaya meningkatkan kualitas jerami yang meliputi kandungan bahan kering, bahan organik, serat kasar dan protein kasar.

Kandungan-kandungan zat pakan dalam jerami padi inilah yang digertak kondisinya dengan enzim xilanase. Alhasil, kandungan seratnya menurun. Segangkan protein kasarnya meningkat, sehingga kandungan gizinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. (YR)

HUJAN, MIKOTOKSIN DAN FLU BURUNG

Infovet

HUJAN, MIKOTOKSIN DAN FLU BURUNG


Ketika hujan tiba, lebih-lebih pada musim penghujan, dengan kelembaban pada iklim kita yang sangat ekstrim perubahan cuacanya dari waktu ke waktu, sebagai kalangan yang bergelut dengan alam dan peternakan tentu kita sangat mafhum apa yang bakal terjadi.

Bagaimanapun kita adalah makhluk hidup yang harus terus menyeimbangkan diri kondisi internal tubuh kita dengan lingkungan dan segala perubahannya. Tanpa keseimbangan ini, terlebih bila kita bersikap sembrono terhadap segala macam faktor penentu kesehatan, dapat diprediksi masalah penyakit bakal menimpa.

Untuk menyiapkan diri kita siapkan segala ‘perlengkapan senjata’ yang ada. Bahkan analisa berdasar yang sudah terjadi menjadi pegangan untuk membuat prakiraan yang bakal terjadi sehingga segenap perlengkapan senjata itu berlaku secara sempurna.
Peternak sudah sangat terbiasa dengan kemungkinan menjamurnya mikotoksin di musim penghujan, maka Infovet mengangkat hal ini. Sangat berfaedah bagi peternak, itu berdasar pengakuan banyak peternak. Menampilkan berbagai tulisan ini adalah tugas kami.

Namun penyakit bukanlah pemain single kejuaraan badminton, mereka sukanya lebih dari main beregu, yaitu: Main keroyokan! Maka tulisan tentang mengeroyoknya penyakit pernafasan dan pencernaan pun kami nagkat.

Pada saat bersamaan, dunia perunggasan kembali ditimpa musibah Tsunami kedua bagi peternakan unggas, hanya karena kasus kematian manusia di sektor 4 (pemeliharaan ternak di pemukiman penduduk) bertambah memposisikan Indonesia menjadi negara dengan kasus Flu Burung tertinggi di Asia.

Padahal peternakan komersial sungguh-sungguh sudah lega dalam tahun terakhir tidak ada alias negatif kasus AI di peternakan khususnya sektor 1 dan 2 (peternakan komersial besar dengan biosecurity sangat ketat dan peternakan menengah dengan biosecurity cukup ketat). Sedangkan di sektor 3 meski terjadi sedikit, nyaris tak terdengar keluhan.

Apa yang sebetulnya terjadi? Kasus AI dan Flu Burung di sektor 4 membuat peternak di sektor 1, 2, dan 3 mesti ikut introspeksi dan lebih waspada, berperang melawan opini masyarakat luas, melawan kebijakan pemusnahan unggas, sekaligus melawan berbagai penyakit lain dengan pengelolaan peternakan sebaik-baiknya dan bersahabat denagn alam lingkungan agar tidak menyatroni peternakan.

Maka di musim penghujan kali ini, sajian Infovet menjadi sangat kaya, dan kita memberi judul yang sungguhlah akrab dengan kalangan peternakan: HUJAN, MIKOTOKSIN DAN FLU BURUNG. (Yonathan Rahardjo)

PRO/PREBIOTIK, ASAM ORGANIK DAN ENZIM

Edisi 168 Juli

PRO/PREBIOTIK, ASAM ORGANIK DAN ENZIM


(( Penciptaan produk-produk zat aditif baru dengan nilai ekonomis tinggi serta mampu bersaing di pasar masih terbuka lebar bagi industri pakan dengan nilai bisnis yang cukup besar. ))

Beberapa alternatif zat aditif pengganti antibiotik telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi seperti pro- dan prebiotik, asam-asam organik, minyak esensial (essential oil) dan berbagai jenis enzim.

Senyawa-senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tanpa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya.
Bagaimana menjelaskan masing-masing?


Pro- dan Pre-biotik

Lingkungan menyenangkan untuk pertumbuhan bakteri menguntungkan (penurunan pH dengan memproduksi asam laktat) akan tercipta dengan mensuplai probiotik pada ransum ternak.

Bakteri asam laktat seperti Lactobacillus bulgaricus, Lactobacilus acidophilus, Bifidobacteria thermophilum dan jenis fungi seperti Saccharomyces cerevisiae adalah contoh-contoh probiotik yang telah diproduksi secara komersial.

Probiotik pun dapat mengurangi produksi racun dan menurunkan produksi amonium dalam saluran pencernaan. Fungsi zat aditif ini tidak jauh berbeda dengan antibiotik yaitu mengatur komposisi mikroflora dalam saluran pencernaan.

Adapun prebiotik adalah oligosakarida yang tidak dapat dicerna oleh hewan monogastrik (ayam dan babi). Senyawa ini digunakan sebagai substrat untuk merangsang pertumbuhan bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli.

Pemberian 0,1 – 0,5% dalam ransum dapat meningkatkan bakteri yang menguntungkan dan menurunkan populasi bakteri yang merugikan.

Dalam penerapannya, penggunaan pro- dan prebiotik bukan merupakan hal baru dalam dunia peternakan.


Asam-asam Organik

Perkembangan biotekhnologi yang begitu pesat mengilhami industri-industri pakan ternak untuk memproduksi asam-asam organik dalam bentuk komersial seperti asam asetat, propionat laktat dan citrat yang dikemas dalam bentuk cair.

Asam-asam organik sebenarnya diproduksi secara otomatis dalam tubuh ternak melalui proses fermentasi selanjutnya digunakan sebagai sumber energi.

Penambahan asam-asam organik dalam pakan ternak dapat meningkatkan produktifitas ternak. Peningkatan performance ternak terjadi melalui penciptaan lingkungan yang serasi bagi perkembangan mikroflora menguntungkan.

Dengan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri tertentu (melalui penurunan keasaman) dapat mengaktifkan serta merangsang produksi enzim-enzim endegenous dan berakibat meningkatnya absorbsi nutrisi dan konsumsi pakan untuk pertumbuhan, produksi dan reproduksi.


Minyak Esensial (Essential oil)

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keaneka ragaman sumber daya alam hayati. Berbagai hasil penelitian menunjukkan potensi Indonesia melalui penambahan minyak esensial dalam pakan ternak.

Penambahan minyak esensial dalam pakan ternak ini dapat memperbaiki performance ternak melalui meningkatnya nafsu makan ternak, meningginya produksi enzim-enzim pencernaan serta stimulasi antiseptik dan antioksidan dari minyak atsiri tersebut.

Saat ini dikenal lebih kurang 2600 jenis minyak esensial yang dihasilkan melalui ekstraksi berbagai jenis tanaman. Jamak diketahui bahwa setiap tanaman mempunyai komponen bioaktif yang spesifik.

Di dalam tubuh makhluk hidup senyawa bioaktif tersebut mempunyai aktifitas microbial, sebagai antioksidan, bersifat antibotik dan juga meningkatkan kekebalan tubuh.

Beberapa contoh minyak esensial yang terdapat pada tanaman misalnya cinnamaldehyde (cinnamon), eugenol (clove), allicin (garlic) dan methol (peppermint).


Enzim

Walaupun dalam tubuh makhluk hidup enzim dapat diproduksi sendiri sesuai dengan kebutuhan, penambahan enzim pada ransum kadang kala masih dibutuhkan. Saat ini telah terindentifikasi lebih kurang 3000 enzim.

Enzim sendiri merupakan senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa-senyawa yang komplek menjadi sederhana.

Beberapa faktor menjadi pemicu munculnya kebutuhan ini. Misalnya, antinutrisi faktor pada bahan pakan (lekctins dan trypsin inhibitor), rendahnya efesiensi kecernaan bahan pakan, dan ketidak tersediaan enzim tertentu dalam tubuh ternak.

Xylanase dan ß-glucanase adalah contoh-contoh enzym yang digunakan pada ternak monogastrik untuk meningkatkan daya cerna ternak.

Penambahan enzim protease dapat untuk mengatasi rendahnya kemampuan ternak muda untuk mencerna protein pada kacang kedele (glycin dan ß-conglycin).

Bahan-bahan baku pakan yang kaya karbohidrat seperti gandum, barley, jagung dan lainnya, mengikat unsur phosphor dalam bentuk asam phytat (myo-inositol hexaxy dihidrogen phosphat) sehingga tidak mampu dicerna oleh ternak. Phytase sebagai enzim yang mampu meningkatkan penyerapan posphor dapat dipikirkan sebagai alternatif.

Dengan mensuplai phytase yang berasal dari Aspergillus atau Trichoderma strains dalam ransum ternak dapat meningkatkan ketersediaan phospor, Ca, Zn dan asam amino bagi ternak. Polusi lingkungan melalui Eutropication juga dapat dicegah dengan penambahan phytase dalam pakan ternak.

Penciptaan produk-produk zat aditif baru dengan nilai ekonomis tinggi serta mampu bersaing di pasar masih terbuka lebar bagi industri pakan dengan nilai bisnis yang cukup besar. (Samadi/Inovasi/YR)

ANTIBIOTIK DALAM PAKAN TERNAK

Edisi 168 Juli

ANTIBIOTIK DALAM PAKAN TERNAK


(( Dengan klasifikasi jenis mikro-organisma dalam saluran pencernaan manusia, diketahui peranan penting berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup yang dapat diseimbangkan dengan antibiotika. Lalu, mengapa ada pelarangan penggunaan Antibiotik pada pakan ternak? ))


Sejujurnya, dengan berbagai kasus mutu yang kita jumpai di lapangan, Indonesia masih bermasalah dalam soal jaminan pasti bagi konsumen untuk mengkonsumsi produk-produk ternak yang terbebas dari pencemaran?

Makanan sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan angka harapan hidup suatu negara, masih acap dibelit persoalan kesadaran yang kurang dari para konsumen terhadap produk ternak yang terbebas dari residu kimia (antibiotik, alfatoksin, dioxin) dan mikrobiologi berbahaya (salmonella, enterobacteriaceae dan BSE-carriers).

Acapkali kita mesti menengok dengan apa yang terjadi di negara-negara maju, di mana di sini kualitas kontrol bahan pakan terus dilakukan oleh pemerintah secara berkala melalui system HACCP (hazard analyis and critical control points) sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah tersusun secara sistematis dan disepakati bersama.


Antibiotik dalam Pakan Ternak

Sejak ilmuan berkebangsaan Rusia Metchnikoff (1908) berhasil mengklasifikasi jenis mikro-organisma yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia, makin terkuak lebar peranan penting akan berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup.

Keseimbangan antara bakteri-bakteri yang menguntungkan dan merugikan dalam saluran pencernaan sepatutnya menjadi perhatian lebih demi terciptanya hidup yang sehat bagi manusia dan produksi yang tinggi bagi ternak.

Keseimbangan populasi bakteri dalam saluran pencernaan
(eubiosis) hanya dapat diraih apabila komposisi antara bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli dan yang merugikan seperti Clostridia setidaknya 85% berbanding 15%.

Dengan komposisi tersebut fungsi “barrier effect“ mikroflora yang menguntungkan dalam tubuh makhluk hidup dengan cara mencegah terbentuknya koloni bakteri phatogen (colonisation resistence) bisa teroptimalkan.

Ketidakseimbangan populasi antara bakteri yang menguntungkan dan merugikan (dysbiosis) berakibat turunnya produksi ternak.

Salah satu cara memodifikasi keseimbangan bakteri di dalam saluran pencernaan adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotik dipercayakan dapat menekan pertumbuhan bakteri-bakteri phatogen yang berakibat melambungnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan.

Tingginya mikroflora menguntungkan tersebut dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial, asam lemak bebas dan zat-zat asam sehingga terciptanya lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri phatogen.

Namun disayangkan penggunaan antibiotik berakibat buruk bagi ternak dikarenakan resistensi ternak terhadap jenis-jenis mikro-organisme phatogen tertentu. Hal ini telah terjadi pada peternakan unggas di North Carolina (Amerika Serikat) akibat pemberian antibiotik tertentu, ternak resisten terhadap Enrofloxacin yang berfungsi untuk membasmi bakteri Escherichia coli.

Di bagian lain residu dari antibiotik akan terbawa dalam produk-produk ternak seperti daging, telur dan susu dan akan berbahaya bagi konsumen yang mengkonsumsinya.

Seperti dilaporkan oleh Rusiana dengan meneliti 80 ekor ayam broiler di Jabotabek menemukan 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamycin.

Penggunaan senyawa antibiotik dalam ransum ternak pun menjadi perdebatan sengit oleh para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan tidak hanya bagi ternak tetapi juga bagi konsumen yang mengkonsumsi produk ternak tersebut melalui residu yang ditinggalkan baik pada daging, susu maupun telur.

Beberapa negara tertentu telah membatasi penggunaan zat aditif tersebut dalam pakan ternak seperti di Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, Jerman tahun
1996 dan Swiss tahun 1999.

Selanjutnya pada 1 Januari 2006 Masyarakat Uni Eropa berdasar regulasi nomor 1831/2003 menetapkan tonggak pemusnahan berbagai macam antibiotik di mana selama beberapa dekade belakang merupakan substans yang kerap digunakan oleh peternak di berbagai belahan dunia.

Tidak dapat dipungkiri sejak digunakannya antibiotik sebagai senyawa promotor pertumbuhan dalam pakan ternak, telah terjadinya peningkatan pendapatan peternak berkat kemampuan senyawa tersebut mengkonversikan nutrisi dalam pakan secara efisien dan efektif.

Akan tetapi, pelarangan tersebut tidak menyeluruh hanya terbatas pada jenis antibiotik tertentu misalnya avoparcin (Denmark), vancomycin (Jerman), spiramycin, tylosin, virginiamycin dan chinoxalins (Uni Eropa).

Hingga kini, hanya tersisa empat antibiotik yang masih diizinkan penggunaannya dalam ransum ternak pada masyarakat Eropa yaitu flavophospholipol, avilamycin, monensin-Na dan salinomycin-Na.

Berbagai upaya telah dilakukan bertahun-tahun untuk mencari bahan tambahan dalam pakan ternak sebagai pengganti antibiotik yang berbahaya tersebut.


Bahan Aditif Pengganti Antibiotik

Konsep pakan ternak berdasarkan kualitas semata (kebutuhan energi dan protein ternak) mulai ditinjau ulang oleh nutritionis akhir-akhir ini. Tuntutan konsumen akan produk ternak yang sehat, aman dan terbebas dari residu berbahaya telah mengajak ilmuan untuk mencari alternatif sumber-sumber pakan baru sekaligus zat aditif yang aman.

Konsumen rela membayar dengan biaya berlipat demi mendapat makanan yang sehat, aman dan terbebas dari residu kimia. Produk pertanian dan peternakan alami tanpa menggunakan secuilpun bahan kimia dalam bahasa Jerman dikenal “okologische produkte” mulai mempunyai pasar tersendiri. “Feed quality for food safety“ merupakan slogan yang acap di dengungkan dimana-mana pada masyarakat Eropa termasuk Jerman.

Kerja keras berbagai pihak dalam usaha menemukan zat aditif pengganti antibiotik telah membuahkan hasil yang tidak begitu mengecewakan. Senyawa-senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tampa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya.

Beberapa alternatif zat aditif pengganti antibiotik telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi seperti pro- dan prebiotik, asam-asam organik, minyak esensial (essential oil) dan berbagai jenis enzim. (Samadi/ Inovasi/ YR)

38 Lokasi Pabrik Mini Pakan Ternak Dikembangkan Deptan

Infovet Edisi 168 Juli

38 Lokasi Pabrik Mini Pakan Ternak Dikembangkan Deptan



(( Saat ini Indonesia punya 56 pabrik pakan skala besar dan 14 lokasi pabrik mini pakan ternak.))

Pada tahun lalu, Departemen Pertanian (Deptan) telah mengembangkan pabrik mini pakan ternak mini di 14 lokasi yaitu di Kabupaten Ciamis, Cirebon, Sukabumi, Subang, dan Bekasi (Jawa Barat), Kabupaten Magelang, dan Banjarnegara (Jawa Tengah), serta Blitar (Jawa Timur).

Selain itu, di Kabupaten Bangli dan Tabanan (Bali), Sawah Lunto (Sumatera Barat), Bengkulu Utara, Kapuas, dan Hulu Sungai Utara.

Saat ini di Indonesia terdapat 56 pabrik pakan skala besar yang tersebar di delapan provinsi, yaitu Sumatera Utara delapan pabrik, Lampung, empat pabrik, Banten 10 pabrik, DKI Jakarta empat pabrik.

Di Jawa Barat terdapat empat pabrik, Jawa Tengah tiga pabrik, 17 pabrik di Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan dua pabrik.

Kapasitas produksi dari seluruh pabrik terpasang sebesar 11,03 juta ton per tahun.

Guna mengantisipasi melonjakan harga pakan ternak, kini, Deptan pun merencanakan pengembangan pabrik pakan ternak skala kecil ("mini feedmill") lagi pada 38 lokasi di tanah air tahun ini.

Dirjen Peternakan Deptan, Tjeppy D Soedjana, di Jakarta belum lama ini menyatakan, pabrik pakan mini tersebut dibangun di wilayah-wilayah sentra produksi bahan baku pakan seperti jagung dan kelapa sawit.

"Pembangunan pabrik pakan ternak skala mini tersebut untuk melengkapi pabrik yang sudah ada saat ini," katanya.

Pabrik pakan mini tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 3-5 ton per hari, serta investasi sebesar Rp250 juta per unit.

Menurut dia, 38 pabrik pakan mini yang akan dikembangkan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak maupun unggas lokal, sedangkan 14 yang telah ada saat ini untuk pakan unggas lokal.

Sementara untuk pabrik pakan besar yang akan dikembangkan di Kabupaten Subang dan Bekasi untuk mencukupi kebutuhan pakan ayam ras dan petelur.

Ketika ditanyakan investasi yang diperlukan untuk pengembangan 38 pabrik pakan mini tersebut, Tjeppy mengatakan, hal itu menjadi kewenangan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Deptan.

Menyinggung populasi ayam pedaging, tambahnya, tahun 2008 diprediksi naik sebesar 1,5 miliar ekor dari 2007 yang hanya sebesar 1,2 miliar ekor.

Sedangkan produksi pakan ternak diperkirakan mencapai 8,23 juta ton atau naik sekitar tujuh persen dibandingkan tahun 2007 sebesar 7,7 juta ton.

Walaupun Indonesia telah mampu mencapai swasembada daging dan telur, lanjut dia, namun ketergantungan impornya masih tinggi, karena sekitar 70 persen bahan baku masih diimpor, baik pakan, obat, dan teknologi lainnya.

Hal itu menyebabkan peternakan ayam masih tergolong industri yang akan tenggelam karena tidak mengakar pada pasokan bahan baku dalam negeri.

Saat ini peternakan unggas menyerap 83 persen produksi pakan nasional, peternakan babi menyerap enam persen, ruminansia tiga persen, perikanan budidaya tujuh persen, dan lainnya sekitar satu persen.

Dalam budidaya unggas, biaya pakan menempati porsi terbesar atau mencapai 70-80 persen dari total biaya.

Komposisi pakan ternak sendiri terdiri dari 51,4 persen jagung, 18 persen bungkil kedelai, 5,0 persen tepung ikan/MBM, 7,0 persen "corn gluten meal", premiks 0,6 persen, CPO (Crude Palm Oil) dua persen dan selebihnya dedak (limbah penggilingan padi).(Ant/Infovet/YR)

MEMBEDAH PARA PEMACU PERTUMBUHAN

Infovet

MEMBEDAH PARA PEMACU PERTUMBUHAN


(( Antibiotika yang banyak digunakan pada hewan secara intensif untuk pengobatan, pencegahan penyakit dan pemacu pertumbuhan serta hormon pertumbuhan harus digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ))

Antibiotika
Untuk membedah ihwal pemakaian antibiotika pada ternak dan dampaknya pada kesehatan manusia, Susan Maphilindawati Noor dan Masniari Poeloengan dari Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor mengungkapkan bawa tingginya tingkat resistensi antibiotika terhadap foodborne bakteri merupakan masalah yang sangat serius dalam bidang kesehatan di dunia.
Dituturkan para peneliti Balitvet itu, antibiotika banyak digunakan pada hewan secara intensif untuk pengobatan, pencegahan penyakit dan pemacu pertumbuhan. Pemakaian antibiotika pada hewan terbukti memacu timbulnya resistensi antibiotika terhadap foodborne bakteri, sebagai contoh Campylobacter dan Salmonella telah resisten terhadap antibiotika fluoroquinolon dan generasi ke tiga chepalosporin.
Menurut mereka, resistensi beberapa antibiotika terhadap foodborne bakteri mengakibatkan kegagalan dalam pengobatan infeksi gastrointestinal pada manusia. Foodborne bakteri yang resisten terhadap antibiotika dapat tansfer ke manusia melalui rantai makanan atau secara kontak langsung.
“Adanya implikasi hubungan antara resistensi antibiotika terhadap foodborne bakteri dengan terjadinya resistensi antibiotika pada manusia maka pemakaian antibiotika pada industri peternakan harus dikontrol,” tegas mereka.
Untuk itu mereka menganjurkan, kerjasama antara peternak, dokter hewan, dokter umum dan kesehatan masyarakat dibutuhkan untuk mengontrol resistensi foodborne bakteri.

Hormon Pemacu Pertumbuhan
Untuk membedah Hormon Pemacu Pertumbuhan dan Efeknya bagi Kesehatan, Maria Prihtamala Omega Dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB mengajak pembaca lebih mengenal tentang Hormone Growth Promotors (HGPs).
Diuraikan Maria, HGPs ialah semua substansi yang memiliki aksi estrogenik, androgenik dan gestagenik. Bertujuan untuk menghilangkan kebuntingan, meningkatkan kesuburan, sinkronisasi estrus, mempersiapkan donor atau reseptor dari embrio implant. Administrasi HGPs dilarang pada hewan domestik. HGPs pada produk daging terhadap kesehatan manusia karena HGPs bersifat carcinogen..
Dituturkan, sejak 1950 penggunaan secara luas hormone (hexoestroi) sebagai growth promotors di USA. Ditujukan untuk meningkatkan berat badan tanpa harus memberi pakan dalam jumlah banyak (overfeeding). Hormon tersebut amat baik digunakan pada ternak sapi, domba, unggas, namun kurang berpengaruh pada babi.
Maria mengungkap, sebagian besar ilmuwan berpendapat bahwa penggunaan HGPs terhadap kesehatan manusia berisiko rendah. Kadar HGPs dalam daging yang dikonsumsi manusia lebih rendah dari kadar hormon seks yang diproduksi oleh tubuh manusia itu sendiri. Dan tidak menimbulkan efek pada hewan yang diberi perlakuan. HGPs juga memberikan efek positif terhadap lingkungan karena mengurangi limbah peternakan dan ekskresi nitrogen .
Syaratnya HGPs digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dan lokasi penyuntikan HGPs (telinga) harus dibuang setelah pemotongan.
Hormon didefinisikan sebagai substansi atau zat biokimia (asam amino, peptide, steroid, asam lemak) yang diproduksi oleh kelenjar tak berduktus dan bersifat spesifik.Lalu dilepaskan dalam pembuluh darah dan di sirkulasikan oleh cariernya ke bagiah tubuh lain untuk menghasilkan efek inisiasi, koordinasi, dan regulator yang sifatnya spesifik.
The Society for Endocrinology yang terdiri 1.800 endokrinolog yang ada di Inggris, membahas tentang ilmu hormonal dan pengobatan. Mereka mengungkapkan bahwa HGPs ternyata mampu meningkatkan bobot badan ternak, memperbaiki Feed Conversion Ratio (FCR), meningkatkan kualitas karkas karena menurunkan kandungan lemak dalam daging, mengurangi limbah peternakan dan eskresi nitrogen.
HGPs yang bersifat estrogenik dan kombinasi estrogenik dengan androgenik dapat diberikan pada ternak jantan yang dikastrasi. Sedangkan HGPs androgenik diberikan pada ternak betina muda dan dewasa. HGPs tidak diberikan pada hewan breeder, veal, calves yang muda.
Kadar seks hormon yang diproduksi secara alami pada manusia lebih tinggi dari kadar HGPs yang terdapat dalam daging. Dan sebagian besar HGPs tersebut dapat dihancurkan oleh sistem pencernaan di lambung lalu didetoksifikasi di hati. Sedangkan residu zeranol, trenbolon asetat 451,1 melengestrol asetat berada dalam tingkatan aman.

Efek HGPs
Peneliti di Ohio State University’s Comprehensive Cancer Center sedang meneliti penggunaan obat secara luas pada industri daging untuk merangsang berat badan hewan sehingga mengakibatkan risiko kanker payudara pada konsumen, seperti zeranoi yang diimplant pada sapi dapat mengubah ekspresi gen pengatur estrogen pada sel kuitur normal dan sel kanker payudara. Bahkan efek ini tetap ada saat konsentrasi zeranoi lebih rendah dari yang ditentukan oleh FDA (batas zeranoi: 00125mg/kg BB tiap hari).
Pada tahun 2001, di Uni Eropa menderita kerugian sebesar EUR 160 miliar tiap tahunnya akibat larangan penggunaan HGPs sebagai pencegahan penyakit atau berkaitan dengan politik dagang.di Uni Eropa.
Residu hormon dari negara-negara di luar Uni Eropa, penghasil daging yang memakai HGPs berlisensi walaupun dengan penerapan Good Veterinary Practice, masih dapat terdeteksi residu hormonnya. Dan terjadi dosis berlebih dari ambang batas normal HGPs dalam hati dan ginjal sapi.
Efek dari penggunaan rekombinan bovine somatotropin pada kambing masa laktasi adalah peningkatan produksi susu, meningkatkan persentasi lemak dan laktosa. Kadar hormon steroid alami yang tinggi dan tidak dapat terhindar oleh konsumen adalah produk telur dan kol, kadarnya melebihi residu hormon dalam daging.
Pertemuan Dewan Perwakilan Uni Eropa di Islamabad, Pakistan, menetapkan larangan penggunaan antibiotic Growth-Promoter pada ternak dimulai 2006(1/1). Adanya pertemuan dengan Dewan Perwakilan Pertanian & Perikanan pada tanggal 16-19 Desember 2002 dalam menyelesaikan hormone-case, menghasilkan keputusan untuk mempertahankan larangan penggunaan HGPs pada hewan produktif.

Larangan
Dituturkan Maria dari FKH IPB itu, di Indonesia, penggunaan HGPs pada hewan tidak produktif dilarang sejak tahun 1983, lalu pada tahun 1996 penggunaan hormon diizinkan hanya untuk gangguan reproduksi dan tujuan terapi. Hormon diklasifikasikan sebagai obat beretika, karena penggunaannya secara legal (hanya dengan resep dokter atau dokter hewan).
Dewasa ini Indonesia menerapkan Precaution Principles yang lebih baik dibanding dengan Risk Management, tidak akan menggunakan HGPs sampai diketahui lebih jauh penelitian yang pasti tentang keamanannya terhadap manusia dan hewan. Melakukan penelitian tentang HGPs di dalam negeri.
Juga meneliti tentang kebiasaan makan orang-orang Indonesia, proposal yang mengizinkan penggunaan HGPs (berisi hormon alami: estrogen, progesterone, testosterone), memenuhi permintaan konsumen akan makanan segar dan aman, perhatian terhadap asal-usul produk, dan sistem pertanian yang bersahabat dengan lingkungan untuk mencapai target utama pembangunan pertanian di Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan para petani, produksi pangan, material mentah bagi industri, ekspor dan mendukung pertumbuhan agribisnis. (YR/berbagai sumber)

MEMACU PERTUMBUHAN TERNAK SECARA ANGGUN DAN BERMARTABAT

Infovet

MEMACU PERTUMBUHAN TERNAK SECARA ANGGUN DAN BERMARTABAT


Peraturan pelarangan pemakaian AGP mendorong industri untuk mencari alternatif yang efektif dan aman. Beberapa sediaan yang sudah terbukti efektif adalah probiotik, prebiotik, organic acid, NSP enzymes, immuno modulator dan obat hewan herbal.
Apakah benar produk probiotik benar-benar berpotensi hebat dan secara signifikan meningkatkan dan memperbaiki performans produksi ayam komersial, memang butuh pengujian laboratoris oleh pihak yang kompeten.
Hanya yang jelas produk itu telah menarik minat banyak peternak untuk mengaplikasikannya. Bukti empiris dari para peternak selalu menjadi testimoni atau kesaksian yang semakin mengharu-birukan pemasaran produk “hebat” itu dan meski tidak menggeser produk farmasetik dan berbahan baku dasar kemikalia secara nyata.
Dari kubu yang menyambut positip aplikasi produk itu, mengungkapkan bahwa hasil nyata telah diperoleh para peternak unggas. Justru menekan ongkos produksi dan mendongkrak produktivitas. Sedangkan dari kubu yang tidak sepaham, berdalih bahwa aplikasi probiotik hanya bersifat pemborosan dan sangat merugikan peternak, oleh karena itu sebaiknya pemerintah melalui instansi yang berwenang untuk segera menertibkan.

Bermula dari Antibiotika
Semua bermula dari antibiotika yang banyak digunakan pada hewan secara intensif untuk pengobatan, pencegahan penyakit dan pemacu pertumbuhan. Pemakaian antibiotika pada hewan terbukti memacu timbulnya resistensi antibiotika terhadap foodborne bakteri, sebagai contoh Campylobacter dan Salmonella telah resisten terhadap antibiotika fluoroquinolon dan generasi ke tiga chepalosporin.

Ke Hormon Pertumbuhan
Kemudian muncullah hormon pemacu pertumbuhan yang secara luas dikenal tahun 1950-an hormone (hexoestroi) sebagai growth promotors di USA. Ditujukan untuk meningkatkan berat badan tanpa harus memberi pakan dalam jumlah banyak (overfeeding). Tentu saja dengan efek dan larangan yang muncul mengikutinya.

Untuk Memenuhi Kebutuhan Asal Ternak
Upaya memacu Pertumbuhan Ternak itu sudah tentu karena pangan asal ternak sangat dibutuhkan manusia sebagai sumber protein. Protein hewani menjadi sangat penting karena mengandung asam-asam amino yang mendekati susunan asam amino yang dibutuhkan manusia sehingga akan lebih mudah dicerna dan lebih efisien pemanfaatannya.
Namun demikian, pangan asal ternak akan menjadi tidak berguna dan membahayakan kesehatan manusia apabila tidak aman. Oleh karena itu, keamanan pangan asal ternak merupakan persyaratan mutlak.
Untuk memperoleh produk ternak yang aman dikonsumsi, berbagai faktor yang terkait erat dalam proses pra produksi perlu diperhatikan dengan menerapkan sistem jaminan mutu.
Tim Balai Penelitian Veteriner Bogor mengungkapkan faktor penting menghasilkan produk ternak aman dan bermutu, perlu memperhatikan kontaminasi produk dari lingkungan dan kontaminasi oleh penyakit hewan menular
Penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan memperhatikan antara lain waktu henti dan kesesuaian dosis. Selain itu, penyimpanan obat hewan juga harus mengikuti petunjuk yang ada.
Pakan memegang peranan terpenting dalam sistem keamanan pangan asal ternak karena mutu pakan akan tercermin dalam produk ternak yang dihasilkan. Pakan yang tercemar oleh berbagai senyawa toksik maupun yang mengandung obat hewan akan berinteraksi dengan jaringan (organ) dalam tubuh ternak.
Apabila peternak yang menggunakan ransum tersebut tidak memperhatikan aturan pemakaiannya, diduga kuat produk ternak mengandung residu antibiotik yang dapat mengganggu kesehatan manusia, antara lain berupa resistensi terhadap antibiotik tertentu. Terlebih lagi sepertiga dari pabrik pakan yang diamati juga menambahkan obat koksidiostat selain antibiotik sehingga akan menambah jenis residu pada produk ternak.

Juga Bermanfaat Melawan Ayam Kerdil
Pemberian bahan-bahan yang bersifat memicu pertumbuhan seperti obat herbal, imunomodulator dan probiotik juga baik digunakan untuk menekan efek sindrom kekerdilan ayam.
Di mana, periode awal tahun 2007 ini peternak benar-benar mendapat cobaan berat. Pasalnya, pemberitaan meningkatnya jumlah korban meninggal akibat flu burung telah menurunkan minat masyarakat untuk mengkonsumsi daging unggas yang menyebabkan hancurnya harga broiler panen ditingkat peternak. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga peternak masih harus direpotkan oleh wabah penyakit kerdil yang merajalela.

Terus Mencari Keamanan
Begitulah, untuk upaya memenuhi kebutuhan pangan asal ternak, antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan telah banyak digunakan, tetapi pada umumnya antibiotik memberikan dampak resiko jangka panjang yang merugikan baik pada lingkungan maupun manusia yang mengkonsumsinya. Untuk melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya resistensi antibiotik, perlu dikaji pemacu pertumbuhan berbahan baku alamiah yang aman untuk manusia dan lingkungan.
Maka penelitian pun banyak dilakukan. Phytogenik yang merupakan salah satu pemacu pertumbuhan dihasilkan dari ekstrak tumbuhan yang berperan penting dalam memacu pertumbuhan pun diteliti.
Maka diketahui taraf penggunaan dan pengaruh pemberian ransum yang mengadung phytogenik antibiotik pemacu pertumbuhan terhadap bobot badan dipasarkan, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konversi ransum, tingkat kematian (mortalitas), income over feed and chick cost ayam broiler.
Alam sendiri dapat menyediakan ratusan prebiotik yang dapat diekstrak dari karbohidrat. Secara komersial, karbohidrat kelas oligosakarida yang merupakan polimer dari fructose Fruktooligosakarida, FOS) dan manosa (mananoligosakarida, MOS) yang banyak diproduksi dalam industri makanan dan kesehatan karena menyimpan fungsi prebiotik.
Saat ini pun, minyak esensial lebih dari hanya sekadar alternatif pengganti antibiotika. Mereka tidak hanya mempengaruhi populasi mikroba, tetapi pada saat yang sama berpengaruh positif terhadap aktivitas enzim pencernaan dan intermediate metabolisme. Produksi ternak tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan penampilan ternak, tetapi juga nutrisi dan kesehatan ternak dan manusia. Saat ini minyak esensial menjadi populer dalam dunia pertanian dan peternakan sebagai pemacu metabolisme dan pencernaan (digestion and metabolism promoters).

Lebih Kenal dengan Hormon
Mengapa terjadi pembahasan tentang hormon sedang hormon sendiri dihasilkan dan banyak digunakan, kita perlu lebih intim dengannya, agar kita sanggup berpikir dan bertindak secara obyektif terhadap semua permasalahan tersebut.
Hormon adalah zat aktif yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yang masuk ke dalam peredaran darah untuk mempengaruhi jaringan secara spesifik.
Hormon terbagi dari 6 golongan yaitu: Hormon androgen dan sintetisnya /testoteron, Hormon estrogen dan progesterone, Hormon kortikosteroid, Hormon tropik dan sintetiknya, Obat anabolic, DAN Hormon lainnya

Bijak di Dalam Bijak di Luar
Akhirnya, dari tahun ke tahun, pasokan ternak impor dari luar negeri ke Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Hal ini sebenarnya merupakan sebuah keprihatinan, mengingat tiga penentu kebijakan dalam hal ini yaitu produsen, konsumen dan pemerintah, hingga saat ini belum mencapai kapasitas kerja yang diharapkan.
Sementara masalah kesehatan produk impor tersebut, masih terus dipertanyakan hingga saat ini. Masalah kesehatan pangan impor pernah meruyak beberapa waktu lalu. Masalah sapi gila (mad cow), terinfeksinya beberapa hewan unggas oleh virus avian, dan beberapa kejadian lain cukup membuat kita memilih tidak mengonsumsi beberapa jenis produk pangan tertentu.
Untuk itu, dengan berbagai informasi yang diungkap kali ini, kita akan bijak bersikap tentang upaya meningkatkan pemenuhan kebutuhan baik yang diproduksi dari dalam negeri maupun yang (terpaksa) harus kita impor.
Tentu dengan sikap anggun dan bermartabat untuk kepentingan kesejahteraan dari segala aspek (Tim Infovet)

PAKAN DAN PENYAKIT PENCERNAAN

Fokus Infovet Juni 2007

PAKAN DAN PENYAKIT PENCERNAAN


Menurut Zaenal Amin PT Cargill Indonesia Area Marketing Kerawang-Cirebon-Brebes, penyakit pencernaan yang terkait dengan pakan dipengaruhi oleh tiga hal:
1. Bahan baku pakan, terkait dengan kualitas bahan baku pakan yang dipergunakan, jika tidak memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan tentunya akan berakibat terganggunya pencernaan. Contoh: Bahan baku jagung, mensyaratkan kadar aflatoxin di bawah 50 ppb, jika di atas batas maksimal maka akan timbul penyakit pencernaan yang disebabkan aflatoxin.

2. Penyimpanan pakan. Jika gudang yang digunakan tidak memenuhi standar, misalnya suhu dan kelembaban tidak standar, atap bocor waktu hujan, maka pakan yang disimpan akan cepat rusak, ditandai dengan kondisi pakan yang menggumpal dan berjamur, dan jika dipaksakan untuk dikonsumsi oleh ternak, maka akan berakibat gangguan pencernaan.

3. Kadaluwarsa. Rata-rata pakan jadi, bisa disimpan dan baik digunakan untuk ternak selama 3 minggu sejak diproduksi, jika lebih dari 3 minggu ada kemungkinan terjadi kerusakan/kadaluwarsa. ini terkait juga dengan kondisi kemasan yang sudah mengalami bongkar muat sejak dari feedmill, delivery ke gudang peternak, kemudian ke kandang/farm. Ditandai dengan kondisi pakan yang sudah bau apek dan ada kutunya. Jika kondisi pakan sudah kadaluwarsa diberikan ke ayam, maka akan berakibat gangguan pencernaan.


Manajemen Kesehatan dan Pakan

Manajemen kesehatan juga harus bisa menyikapi problem-problem pakan. Demikian Dr Drh Soeripto MSV dari Bbalitvet Bogor, seraya memberi contoh misalnya konsumsi nutrisi lemak pada suhu tinggi mengandung linoleic acid dengan konsentrasi melebihi ambang normal dapat menyebabkan perlemakan hati dan ginjal.

Akibatnya, secara fungsional bila ginjal tidak bisa menjalankan fungsi detoksikasi akan sangat merepotkan. Demikian juga fungsi ginjal untuk filterisasi dengan organ kapsul bowman dalam ginjal dapat terganggu akibat keracunan, yang secara ekonomik sangat merugikan karena ayam menjadi terganggu pertumbuhannya.

Menurut dokter hewan peneliti ini, soal pakan, rata-rata cenderung dikebelakangkan oleh umumnya dokter hewan yang lebih memperhatikan penyakit infeksi. Padahal, soal pakan ini juga sangat terkait dengan penyakit.

Oleh karena itu, kata Dr Soeripto, “Pakan sangat perlu diperhatikan. Meskipun tidak secara sekaligus dapat langsung membunuh ayam, manajemen pakan harus dikontrol.”


Cara Memahami Pakan

Untuk program pemberian pakan ini sangat diperlukan pemahaman yang benar oleh peternak. Drh Desianto Budi Utomo PhD dari PT Charoend Pokpand Indonesia dalam Seminar Nasional ASOHI Topik Mengoptimalkan Produksi Ayam untuk Menyiasati Kenaikan Harga Pakan April 2007.

Menurutnya, untuk mendapatkan pemahaman yang tepat, dapat diterapkan dengan demoplot. Caranya dengan mencari peternak yang mau berubah untuk percontohan dengan demoplot.

Misalnya untuk pemahaman terkait dengan pemberian pakan yang tepat pada ayam broiler, dengan demoplot dapat diberikan contoh perbedaan sistem pemberian pakan ganda (pada starter dan finisher) atau sistem pemberian pakan tunggal pada ayam broiler. Dengan memperhatikan langkah-langkah yang terkait dengan demoplot, perbedaan 2 sistem pemberian pakan itu akan diketahui yang mana yang paling baik.

Pada dasarnya pakan finisher energinya lebih tinggi. Dengan percobaan, dapat diketahui faktor-faktor perubahannya.

Perlu pemberian pakan sesuai pertumbuhan. Prinsipnya, guna melihat bukti untuk memperoleh sikap percaya dapat dilakukan demoplot. Tanpa itu, sulit, meski dilakukan seminar-seminar dan lain-lain wacana.

Bagi Prof Dr Ir Budi Tangenjaya Dewan Pakar ASOHI yang juga peneliti senior di Balai Penelitian Ternak, dalam kesempatan sama, petunjuk praktis untuk peternak memang sangat dibutuhkan. Misalnya pada peternakan ayam petelur, pakan dengan konsentrat tertentu dapat diaplikasikan dengan program excell pada komputer yang mencakup data-data yang ada.

Dalam hal aplikasi praktis ini keterbukaan harus ada. Misalnya peternak perlu tahu penggunaan konsentrat pabrikan dengan perimbangan tertentu dalam komposisinya seperti lisin, kalsium, dan lain-lain. Perubahan komposisi pun harus jelas.

Hal ini seperti halnya formulasi sederhana, jumlah biaya pun mesti kelihatan. Baik itu pada ayam petelur maupun ayam pedaging.

Praktisnya, misalnya, apa perlu mencampur jagung pada pakan itu. Apa perlu membuang koksidostat, atau perlu vitamin untuk hari terakhir pemeliharaan, pun bagaimana dengan mengencerkan jagung.

Menurut Dr Budi Tangenjaya, hal semacam itu setidaknya merupakan trik-trik untuk pemahaman formulasi pakan yang sangat bermanfaat bagi peternak.

Terkait trik ini, sesuai dalam beternak ayam petelur ini Drh Elfan Briska Darmawan seorang dokter hewan praktek dan juga sebagai peternak ayam petelur di Jabotabek mengungkapkan, “Mengenai jagung tidak ada alternatif lain. Tapi katul cukup murah. Jadi tetap dipakai sebagai konsentrat sebab harga pakan selangit.”


Ya, Semua Berawal dari Pakan

Memang, “Pakan juga dapat disinyalir sebagai faktor predisposisi munculnya penyakit pencernaan pada unggas,” kata Ir Hj Elfawati MSi dosen Nutrisi Unggas pada Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau.

Menurutnya, perubahan kandungan pakan, meliputi pH dan viskositas, kandungan energi pakan tinggi, program pakan terbatas, perubahan bentuk fisik pakan (tepung ke pelet) dan pemberian beberapa protein hewani dapat mempengaruhi mikroflora usus yang berdampak pada keradangan usus. Radang usus (enteritis) sering terjadi sebagai efek sekunder dari infeksi virus atau infeksi coccidia.

Pencegahannya, katanya, adalah dengan penggunaan growth promotor secara efektif, control infeksi coccidia, melindungi kinerja sistem kebal, biosekuriti menyeluruh dan penerapan sanitasi menyeluruh di farm peternakan.

Disamping itu, Kehadiran mikotoksin dalam pakan telah lama diketahui. Umumnya jenis mikotoksin yang sering dijumpai adalah Ochratoxin A, yang menyebabkan meningkatnya kerusakan intestinal.

Aflatoksin menyebabkan kerusakan hati, memblokir saluran pipa empedu dan penurunan kadar empedu di saluran usus lebih rendah. Akibatnya penyerapan lemak menjadi sangat kurang. Trichothecene (T-2) menyebabkan perlukaan di dalam rongga mulut, proventriculus, gizard dan usus. Sumber-sumber kontaminasi mikotoksin meliputi biji-bijian berjamur, tempat pakan yang kotor, peralatan pengangkut pakan yang tercemar.

Untuk mencegah tumbuhnya mikotoksin, sebaiknya membeli biji-bijian berkualitas dan disimpan dalam tempat yang sesuai kondisinya. Biji-bijian yang mengandung mikotoksin tinggi perlu ditambahkan agen pengikat dan dicampur dengan biji-bijian berkualitas baik untuk mengurangi efek negatif.

Kemudian menurut Eva, terkait tempat penyimpanan pakan, lokasinya harus dihindari dari terpaan sinar matahari langsung, kondisi lembab dan penumpukan yang melebihi kapasitas daya simpan gudang tersebut. Dalam pemakaian pakan, sebaiknya peternak menggunakan sistem FIFO (first in first out), dengan demikian pakan yang lawas tidak akan terkonsumsi lagi oleh ayam yang dipelihara peternak, pungkas Eva. (Daman, YR)

PAKAN UNTUK YANG KERDIL

Infovet

PAKAN UNTUK YANG KERDIL


Sementara kalangan menganggap kekerdilan sudah jarang dijumpai lantaran perlakuan sudah cukup baik. Tapi, ternyata masih ada juga. Peternak dapat mengamati keterkaitan dengan pihak bibit ini pada kondisi di lapangan. Apakah kala bibit ayam masuk kandang komersial pada tiga bulan tidak kena kekerdilan, selanjutnya apakah tiga bulan berikutnya lagi tidak kena kekerdilan atau menjadi kena. “Dengan demikian bisa ketahuan, mungkin itu karena faktor pakan, atau yang lainnya,” kata seorang praktisi.

Karena penyebab kekerdilan memang berbeda-beda, jangan heran bila muncul pengalaman aneh, perlakuan pemberian pakan oleh peternak terhadap ayam yang terganggu/terhambat pertumbuhannya ini ternyata tidak berbeda, sehingga tidak ada perlakuan khusus soal pakan ini. Namun ada peternak yang memisahkan antara ayam kerdil, sedang, dan normal, karena konsumsi pakan sama ternyata hasilnya berbeda, sehingga tidak efektif untuk pemeliharaan dan pertumbuhan.

Bandingkan bedanya, pada kasus malabsorbsi sindrom, pola makan ayam tetaplah normal, tetap makan banyak seperti halnya ayam normal, akan tetapi ayam tidaklah tumbuh dan berkembang. Hal ini karena penyerapan kurang baik. Sedang kasus Runting dan Stunting tidak tumbuh dan berkembang. Demikian Drh Andi Widjanarko dari PT Pimaimas Citra.

Pakan Bagus?

Oleh sebab itu, “Jangan lupa, pakan haruslah yang bagus,” tutur Drh Suhardi dari PT Sanbe Farma. Bila pada 1-2 minggu pertama muncul gejala kekerdilan yang bakal terjadi, berikan pakan untuk strater, bukan untuk grower. Soal pakan ini, Drh Supandi juga dari PT Sanbe Farma melengkapi, konsumsi pakan harus cukup baik, ditambah dengan vitamin dan elektrolit.

Sediaan vitamin yang dianjurkan mengandung vitamin-vitamin A, D, E, K, demikian juga vitamin yang mengandung asam amino di mana protein ini sangat penting untung pertumbuhan ayam. “Harapannya gejala-gejala yang bisa muncul dapat dicegah, dan ayam menjadi lebih baik pertumbuhannya, efek dari Runting dan Stunting Syndrome dapat diminimalisir,” kata Supandi.

Dari sisi pakan diakibatkan oleh fluktuasi kualitas dari bahan baku pakan, seperti level mikotoksin, level mineral dan vitamin. Demikian Drh Hany Widjaja dari Alltech Indonesia.

Pakan Saat DOC Datang?

Bagaimana teknisnya? Saat DOC tiba segera hitung, tebar, dan beri minum air gula. Teruskan dengan antibiotik spektrum luas dan vitamin elektrolit. Untuk DOC yang lemah beri cekok larutan infus. Demikian Drh Prabadasanto Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia..

Amati di peternakan-peternakan kita. Frekuensi pemberian pakan dengan cara lama, dulu sampai 1-2 hari hanya dengan jagung kering. Dan ini diberikan sampai beberapa hari. Setelah ayam selesai diberi minum dalam rentang waktu ini, baru diberi pakan. Jelasnya, kondisi di lapangan, pemberian pakan starter biasanya ditunda sampai beberapa hari dulu. Demikian pengamatan Praba.

Apakah hal ini masih berlaku sampai sekarang? Bagaimana yang lebih baik? Terkait dengan pertumbuhan fili-fili usus yang tumbuh pada 4-5 jam, ternyata hal ini bukan hal terbaik. Yang lebih pantas diterapkan seiring pertumbuhan fili usus untuk pencernaan ini adalah pakan diberikan tanpa menunggu beberapa hari. Sesaat setelah DOC minum, segera beri pakan, karena semakin cepat fili-fili usus lontak dengan makanan akan semakin baik perkembangannya. Demikian Praba.

Setelah 8 jam kedatangan, tembolok anak ayam perlu diperiksa. Harus sudah terisi pakan 80 persen. Bila kurang dari 80 persen akan memungkinkan terjadi gangguan pertumbuhan. Cara pemberian pakan metode lama, peternak sendiri yang menyaring pakan, memungkinkan mikotoksikosis. Kerugiannya lambat tumbuh. Pertumbuhan yang biasanya cukup pada umur seminggu untuk mencapai berat tertentu, sekarang membutuhkan waktu lebih lama, bisa mencapai umur 10 untuk mencapai berat yang sama. Demikian Praba.

Tempat Pakan

Pemberian pakan pada minggu pertama dapat dengan cara ditebar di atas koran sedikit demi sedikit tetapi lebih sering. Agar, anak ayam dapat mengenal bentuk pakan. Dan, juga ditaruh pada tempat pakan. Seringkali anak ayam memakan sekam apabila tidak diberi alas koran. Demikian Praba mengutarakan pengamatannya di banyak peternakan.

Jumlah tempat pakan/minum 100 ekor antara 3-4 buah. Bila menggunakan box DOC sebagai tempat pakan maka 1 box untuk sekitar 75 ekor. Tetapi perlu diperhatikan bahwa penggunaan box DOC sebagai tempat pakan jangan lebih dari 3 hari. Karena, box akan menjadi lebih lembab dan dapat menjadi media pertumbuhan jamur yang dapat menyebabkan mikotoksikosis yang ujung-ujungnya juga mampu menyebabkan kekerdilan. Pengenalan dengan tempat pakan dalam bentuk tabung gantung dimulai pada usia 7-10 hari. Setelah usia 15 hari hanya digunakan tempat pakan bentuk tabung tersebut. Penggantian secara bertahap. Demikian Praba

Langkah-langkah soal pakan ini ada yang bersifat umum dan ada yang spesifik sesuai dengan kondisi masing-masing peternakan dan berdasar pilihan terbaik bagi para narasumber. Barangkali masih banyak pengalaman lain dari narasumber yang berbeda guna mengatasi permasalahan ayam kerdil.

Sudah tentu yang diinginkan peternak dan praktisi tak akan ada hambatan pertumbuhan. Maka soal pakan, pilihlah mutu dan cara pemberian yang terbaik. Jangan lupa: Ayo! Cari yang terbaik. (YR)

BUKAN SEKEDAR MENGENANG SILASE KOMPLIT

Edisi 168 Juli

BUKAN SEKEDAR MENGENANG SILASE KOMPLIT

(( Soal silase bukanlah sekenar mengenang ada teknologi macam ini untuk pakan ternak kita. Tapi patut untuk dilakukan. ))

Lingkungan yang relatif panas pada musim kemarau menyebabkan sebagian ternak akan ‘enggan makan’ sehingga secara kuantitas asupan zat makanan (nutrient) yang masuk dalam tubuh juga kurang.

Persediaan pakan silase bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan ternak musim kemarau. Paling tidak dengan menerapkan teknologi ini dapat memberikan solusi pemenuhan pakan di musim kemarau sekaligus dapat mempertahankan kualitas asupan gizi untuk ternak.

Pembuatan silase komplit dapat dijadikan salah satu cara untuk mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau sekaligus memperbaiki kualitas gizi pakan ternak. Pada kondisi hijauan melimpah di musim penghujan, bahan pakan hijauan baik berupa HMT maupun sisa tanaman pangan diperam dengan penambahan bahan konsentrat akan dapat tahan sampai 4-8 bulan.

Demikian A Sofyan dan A Febrisiantosa Peneliti UPT. BPPTK - LIPI Yogyakarta dalam suatu sumber menjawab problematika umum usaha peternakan di negara-negara tropis seperti Indonesia adalah faktor suhu lingkungan yang cukup tinggi terutama pada musimkemarau yang berdampak langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi pada tubuh ternak.

Saat panas seperti itu, sering dijumpai kasus ’kanibalisme’ sapi yakni sapi ’makan’ sapi. Hal ini terjadi karena kondisi persediaan pakan terutama di daerah yang tidak punya banyak tanaman HMT-nya sebagai sumber asupan nutrient.

Padahal, asupan nutrient ini berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok (maintenance), perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan bereproduksi. Implikasi dari kondisi asupan gizi ternak yang kurang, tak jarang dijumpai ternak dengan pertambahan berat hidup (average daily gain/ADG) yang masih sangat jauh dari hasil yang diharapkan baik di tingkat peternakan rakyat maupun industri.

A Sofyan dan A Febrisiantosa mengatakan, ada 2 masalah utama yang menyebabkan pakan ternak khususnya pakan ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kecukupan jumlah dan asupan
nutrient.

Masalah pertama adalah bahan pakan pada umumnya berasal dari limbah pertanian yang rendah kadar protein kasarnya dan tinggi serat kasarnya. Tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignoselulosa (karbohidrat komplek) yang sulit dicerna (McDonald et al., 2000).

Masalah lainnya adalah ketersedian pakan yang tidak kontinyu. Ini dikarenakan langkanya bahan pakan terutama di musim kemarau. Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan telah dilakukan. Untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan adalah dengan memebuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasi) dan awetan hijauan (silase).

Pengolahan bahan pakan dengan pengeringan sangat tergantung dengan musim/panas matahari sedangkan pengolahan dengan amoniasi (penambahan urea) acapkali terjadi kausus toksikasi karena tingginya amonia. Teknologi yang sekarang berkembang adalah pembuatan pakan tidak hanya sekedar awet (silase) tapi juga kadar nutrient sesuai dengan kebutuhan gizi ternak.

Dikarenakan sebagian besar pakan sapi mengandung serat yang tinggi, pengolahan bentuk silase memiliki beberapa keunggulan. Silase merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (40-80 persen).

Menurut A Sofyan dan A Febrisiantosa, keunggulan pakan yang dibuat silase adalah pakan awet (tahan lama), tidak memerlukan proses pengeringan, meminimalkan kerusakan zat makanan/gizi akibat pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen (perut) sapi.

Konsep teknologi silase yang dikembangkan selama ini masih bersifat silase tunggal (single silage) dan proses pembuatannya dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen).

Dalam praktek di lapangan, konsep silase ini cukup terkendala karena selain meminta tempat simpan (pemeraman) yang cukup vakum juga silase yang dihasilkan jika diberikan ke ternak hanya memenuhi 30-40 persen kebutuhan nutrisi ternak.

Menurut B A Sofyan dan A Febrisiantosa, berbeda dengan silase tunggal, silase komplit memiliki beberapa keunggulan.

1) Lebih mudah dalam pembuatannya karena tidak perlu memerlukan tempat pemeraman yang an-aerob, cukup dengan semi aerob.
2) Kandungan gizi yang dihasilkan juga lebih tinggi, dapat memenuhi 70-90 persen kebutuhan gizi ternak sapi.
3) Memiliki sifat organoleptis (bau harum, asam) sehingga lebih disukai ternak (palatable).

Prinsip pembuatan pakan komplit dalam bentuk silase ini seperti proses fermentasi pada umumnya. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari 3 kelompok bahan yakni kelompok bahan pakan hijauan, kelompok bahan pakan konsentrat dan kelompok bahan pakan aditif.

Bahan pakan hijauan disini dapat berupa bahan pakan dari hijauan makanan ternak (HMT) seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput kolonjono (Panicum muticum), Tanaman Jagung (Zea mays) dan rumput-rumput lainnya.

Selain dari HMT, limbah-limbah dari sisa panen seperti jermai padi, jerami kedelai juga dapat digunakan. Bahan pakan ini sebagai sember serat utama. Kelompok bahan pakan konsentrat dapat berupa dedak padi/bekatul, onggok (ampas tapioka), ampas sagu, ampas tahu dan lain-lain.

Bahan pakan konsentrat ini selain untuk memperbaiki kandungan nutrisi dari pakan yang dihasilkan juga berfungsi sebagai substrat penopang proses fermentasi (ensilase). Kelompok ketiga adalah bahan-bahan aditif. Bahan aditif disini dapat terdiri dari campuran urea, mineral, tetes dan lain-lain.

Begitulah, akhirnya A Sofyan dan A Febrisiantosa mengatakan faktor kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan karena hampir 2/3 biaya produksi berasal dari pakan. Oleh karena itu, perhatian terhadap asupan zat makanan ke ternak akan sangat menentukan keberhasilan budidaya peternakan.

Jadi soal silase bukanlah sekenar mengenang ada teknologi macam ini untuk pakan ternak kita. Tapi patut untuk dilakukan. (Inovasi/ YR)

Impor Bahan Baku Pakan yang Bermasalah

(( Impor bahan baku pakan ternak saja sudah merupakan masalah bagi negeri yang kaya raya dengan kekayaan alam termasuk untuk pakan ternak. Dengan terhambatnya pakan ternak impor masuk ini, bertambahlah masalah. ))

Bukan rahasia umum negeri ini pun pengimpor tiga jenis bahan baku komponen utama pemberi protein bagi pertumbuhan ternak. Tiga bahan baku ini adakah tepung daging dan tulang (meat and bone meal), tepung daging unggas (poultry meat meal), dan feather meal, yakni tepung bulu yang sebagai bahan pakan alternatif biasanya berasal dari bulu unggas, khususnya bulu ayam.

Rata-rata nilai impor tiga jenis bahan baku itu sebulan sekitar 75.000 ton. Beban biaya tambahan semakin besar karena importir juga harus membayar sewa gudang swasta dan biaya pemindahan yang totalnya mencapai Rp 11 juta. Total kerugian akibat lambannya pengurusan SPP tiap kontainer sebanyak Rp 37 juta per ton.

Sebegitu jauh kita mengimpor nahan baku pakan ternak tersebut, minggu kedua Juni 2008bahan baku pakan itu terhambat masuk, sekitar 75.000 ton bahan baku pakan ternak tidak bisa dibongkar dan terancam dilelang.

Hal ini karena sebanyak 97 berkas surat persetujuan pemasukan (SPP) bahan baku pakan atau rekomendasi impor hingga Jumat (13/6) menumpuk di Departemen Pertanian atau Deptan.

"Keterlambatan pengurusan SPP bisa terjadi karena petugas atau direktur yang berwenang menandatangani tugas keluar atau dokumen kurang lengkap," ungkap Direktur Jenderal Peternakan Deptan Tjeppy D Sudjono.

"Biaya tambahan yang harus dikeluarkan akibat terhambatnya proses administrasi cukup besar," tambah Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan Ternak Fenni Firman Gunadi.

Perhitungan industri pakan ternak menunjukkan, pada pekan pertama hingga keenam total demurrage yang harus dikeluarkan importir mencapai 2.800 dollar AS untuk tiap kontainer 20 kaki.Nilai riil kerugian yang harus ditanggung akibat demurrage (biaya kelebihan waktu dalam pemakaian kontainer), biaya sewa gudang, dan pemindahan barang mencapai Rp 112,5 miliar sebulan. Demikian Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia Anton J Supit.

Akibatnya, kata Anton, ”Biaya tinggi tersebut pada akhirnya harus ditanggung oleh peternak dan masyarakat konsumen.”

Sebetulnya, terhambatnya surat persetujuan pemasukan (SPP) di Direktorat Jenderal Peternakan terjadi sejak 2 Mei 2008 hingga. Pemohon SPP tidak terproses setelah kapal merapat 14 Mei 2008. Bahkan, sudah ada barang yang waktu bebas demurrage-nya habis.Demikian Ketua Umum Forum Masyarakat Perunggasan Don Utoyo.

Sampai minggu pertama Juni 2008, tercatat sebanyak 107 berkas SPP terhambat di Deptan. Setelah mendapat protes dari kalangan pengusaha pakan ternak, pada 9 Juni 2008 Deptan menandatangani sepuluh berkas SPP. Hingga minggu ke dua Juni 2008, masih terdapat 97 berkas SPP yang belum ditandatangani.

Impor pakan ternak saja sudah merupakan masalah bagi negeri yang kaya raya dengan kekayaan alam untuk pakan ternak. Dengan terhambatnya pakan ternak impor masuk ini, bertambahlah masalah. Sampai kapan berakhir? (Kps-MAS/ YR)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls