Showing posts with label Penyakit Parasit. Show all posts
Showing posts with label Penyakit Parasit. Show all posts

Penyakit Protozoa Bukan Dusta

Fokus Infovet

Penyakit Protozoa Bukan Dusta


Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Nomor 6 Tahun 1967 (6/1967) Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 j menyatakan: penyakit hewan menular ialah penyakit hewan, yang membahayakan oleh karena secara cepat dapat menjalar dari hewan pada hewan atau pada manusia dan disebabkan oleh virus, bakteri, cacing, protozoa dan parasit.

Menurut ensiklopedia, protozoa mencakup banyak organisme renik heterotrof bersel tunggal populer seperti Amoeba serta Paramaecium. Namanya berasal dari dua kata bahasa Yunani: proto (awal) dan zoon (hewan), sehingga berarti "hewan pertama". Organisme ini dianggap sebagai eukaryota pertama yang bisa hidup sebagai sel tunggal di alam. Oleh karena itulah protozoa lazim disebut sebagai hewan bersel satu.

Koksidiosis
Penyakit karena protozoa pada ayam, yang paling dikenal adalah Koksidiosis dengan gejala utama berak darah. Peternak pun mengenal penyakit protozoa lain seperti malaria unggas dan Leucocytozoonosis.
Koksidiosis, penyakit menyerang sistem pencernaan. yang ditimbulkan oleh Koksidia disebabkan oleh berbagai spesies genus Eimeria. Saat ini diketahui terdapat sembilan spesies Eimeria yang menyerang ternak ayam dengan enam spesies di antaranya bersifat patogenik (menimbulkan penyakit) dan menyebabkan penyakit.
Suatu riset menyebutkan, biaya pengobatan dan pemberian aditif pakan anti-koksidiosis tidak kurang dari US $ 300 juta per tahun untuk seluruh wilayah penghasil unggas dunia. Bukankah itu harga yang teramat mahal yang harus dibayar jika peternak lalai melakukan tindakan pencegahannya?
Infeksi berawal dari tertelannya ookista yang telah mengalami sporulasi. Ookista ini dapat ditularkan secara mekanik melalui anak kandang, peralatan kandang atau litter yang tercemar. Ayam yang telah terinfeksi Eimeria tenella dapat dikenali dari jenggernya yang kelihatan pucat, disamping kotorannya bercampur darah.
Koksidia dapat menyerang setiap saat setelah anak ayam berumur 2 minggu. “Jangan biarkan penyakit pembunuh ini menyerang tiba-tiba. Pendarahan dan kotoran berwarna hitam adalah indikasi awal dari penyakit ini, terutama Koksidiosis jenis cekak (cecal). Anak ayam yang terinfeksi bulunya tidak mulus, aktivitasnya di bawah normal dan nafsu makan dan minumnya berkurang,” kata narasumber Infovet.
“Jangan menunggu sampai semua ayam di kandang menunjukkan gejala yang sama baru mengambil tindakan pengobatan. Begitu kelihatan ada tanda yang mengarah pada penyakit itu, segera obati,” saran narasumber Infovet.
Narasumber itu menguraikan, agar ayam terhindar dari berak darah, harus dilakukan langkah-langkah pencegahan seperti pengaturan sistem ventilasi udara yang baik, pengaturan kepadatan kandang yang sesuai dengan kapasitasnya dan penyediaan tempat pakan dan minum yang cukup.
Khusus untuk pengaturan tempat air minum, sebaiknya menggunakan tempat minum nipple drinker agar tidak banyak air yang tumpah ke litter. Hal ini dapat mengurangi resiko kelembaban tinggi pada litter. “Jangan lupa berikan koksidiostat (pencegah berak darah) kimiawi dan ionoforik untuk broiler dan koksidiostat sintetik untuk induk dan pullet petelur sesuai dengan petunjuk yang ada,” tegasnya.
Menurutnya, ventilasi yang baik dapat mencegah penyakit yang disebut Koksidiosis. Apabila penyakit ini menyerang, ayam akan banyak yang mati dan yang bertahan hidup akan cacat seumur hidupnya.

Toksoplasmosis
Protozoa lain yang terkenal di kalangan peternakan adalah Toksoplasmosis. Dikneal, Toksoplasmosis adalah penyakit yang sering dijumpai di daerah-daerah yang mempunyai kebiasaan memelihara kucing. Bila kucing memangsa tikus yang mengandung toksoplasma maka kucing ini akan dapat terinfeksi. Bila terinfeksi maka tinja kucing bisa mengandung oosist (salah satu bentuk toksoplasma yang dapat menimbulkan infeksi).
Di usus kucing itulah parasit ini berkembang biak. Telurnya keluar bersama tinja. sekali keluar bisa jutaan. Telur toksoplasma mampu bertahan hidup setahun di tanah lembab dan panas. Jika telur tertelan manusia, di organ tubuh manusia telur berbiak lalu masuk ke jaringan otak, jantung dan otot. Disana telur akan berkembang menjadi kista.
Toksoplasma tidak hanya menginfeksi kucing tetapi juga kelinci, anjing, babi, burung, kambing dan mamalia lainnya. Bedanya, kista toksoplasma dalam daging manusia bukan sumber penularan. Sedangkan kista di daging mamalia dan burung biasanya dimangsa anjing atau kucing. Babi, kambing, ternak dan hewan pengerat tertular toksoplasma dari memakan rumput yang tercemar tinja kucing.
Pada tahun 2005, toksoplasma dari kucing setelah dilakukan penelitian terbukti telah menulari hewan lain terutama sapi di wilayah Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Saat itu, berdasarkan penelitian Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Provinsi DIY, dari 11 ekor kucing di Kecamatan Seyegan yang diteliti ternyata tujuh ekor di antaranya positif terjangkit toksoplasma.
Ditelitinya kucing di wilayah Seyegan itu karena di kecamatan tersebut sebelumnya banyak ditemukan sapi keguguran yang disebabkan tertular toksoplasma dari kucing, apalagi di wilayah itu terdapat banyak kucing liar.
Kecurigaan pada kucing, karena di wilayah itu banyak kucing liar yang membuang kotoran di pagar rumput kemudian dimakan oleh sapi. Dari kondisi inilah diyakini api yang terjangkit toksoplasma akibat tertular dari kucing melalui rumput yang diyakini telah terkontaminasi toksoplasma dari kotoran kucing.

Tripanosomiasis
Lazimnya dikenal sebagai penyakit Surra, disebabkan oleh semacam protozoa yang merupakan parasit darah yaitu Trypanosoma evansi. Penyakit Surra ini merupakan penyakit menular pada hewan dapat bersifat akut maupun kronis. Penyakit Surra Penyakit Surra biasanya terjadi secara sporadis tetapi kadang-kadang dapat juga terjadi wabah.
Dinas Peternakan Propinsi Sumatra Barat Di Sumatera Barat melaporkan kejadian penyakit Surra ditemukan pada tahun 70-an dan pernah terjadi wabah surra pada tahun 1976 di Kab. Sawahlunto Sijunjung pada ternak kerbau dimana sebanyak 353 ekor sakit dan mati bangkai sebanyak 19 ekor.
Setelah terjadi wabah surra tahun 1976, kasus sporadis hampir setiap tahun ada seperti di daerah-daerah kantong penyakit surra yaitu Kec. Rao Mapat Tunggul Kab. Pasaman, Kec. Rambatan Kab. Tanah Datar, Kec. Matur Kab. Agam dan Kec. Pancung Soal Kab. Pesisir Selatan.
Semenjak tahun 1999 s/d tahun 2004 kasus penyakit surra sudah mulai menghilang kemungkinan berkaitan dengan vektor lalat penghisap darah seperti Tabanus yang hidup pada semak belukar sudah mulai berkurang populasinya, di samping itu daerah tersebut sudah terdesak dengan bangunan-bangunan.
Terkait dengan parasit protozoa ini, pada tahun 2007 ini Guru Besar dalam bidang ilmu Parasitologi Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan Unair Prof Dr Drh H Setiawan Koesdarto MSc menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar tentang Penyakit Parasitik Pada Pengembangan Sapi Madura.
Menurutnya, sapi Madura tak terlepas dari serangan penyakit. Salah satu diantaranya adalah penyakit parasitik, penyakit ini disebabkan oleh beberapa agen. Selama bertahun-tahun telah dilakukan beberapa kajian tentang parasitik, meliputi helmin, protozoa darah, dan vektor lalat beserta interaksinya pada sapi Madura.
Menurut Prof Setiawan Koesdarto dalam suatu kesempatan, peluang penularan trypanosomiasis dapat terjadi jika terdapat reservoir, yaitu sapi yang terinfeksi. Mekanisme penularan dipengaruhi oleh kemampuan terbang vektor, kemampuan menyebar, serta daya tahan hidup T evansi pada vektor.
"Lama hidup pada habitat probosis vektor maksimal 4 jam. Sedangkan pada habitat fore gut maksimal 9 jam," urai Prof Setiawan Koesdarto.

Anaplasmosis/Piroplasmosis
Meski bukan wabah, Dinas Peternakan Propinsi Sumatra Barat pun melaporkan adanya kasus Anaplasmosis/ Piroplasmosis. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang tidak ditularkan secara kontak (non contagious) yang dapat bersifat perakut sampai kronis.
Tanda penyakitnya, demam tinggi, anemia, ichterus tanpa hemoglobinuria, di dalam eritrosit hewan penderita terdapat agen penyakit yang bentuknya seperti ”titik“ yang disebut Anaplasma, biasanya yang patogen adalah anaplasma marginal.
Penyakit ini lebih sering menyerang ternak sapi dan kerbau. Anaplasma maupun Piroplasma termasuk dalam golongan rikettsia yang ditularkan oleh lalat penghisap darah.
Menurut sumber di Dinas Peternakan Propinsi setempat, di Sumatera Barat belum pernah terjadi wabah anaplasmosis maupun piroplasmosis, dari hasil pemeriksan darah (ulas darah) secara sporadis sering ditemukan, tetapi tidak menimbulkan gejala klinis. Cara penularan yang lain melalui caplak sebagai induk semang alami, memindahkan penyakit ini secara transovarial kepada caplak keturunannya.
Caplak bertindak sebagai induk semang antara. Pada tahun 2001 hal ini pernah terjadi pada sapi impor ex Australia di BPTU Padang Mengatas dan menyebabkan kematian ternak hampir 15 ekor.
Dispet Sumbar bersaksi, lantaran obat untuk parasit darah harganya cukup mahal di samping itu jarang ada di pasaran, relatif sulit untuk memberantas anaplasma maupun piroplasma dalam darah hewan, kemungkinan dengan menghilangkan caplak dari lingkungan ternak dapat mengurangi penularan dari penyakit anaplasmosis maupun piroplasmosis.

Protozoa yang Lain
Kalangan di luar kedokteran hewan dan peternakan pun mengenal dan mensosialisasikan penyakit karena protozoa. Dinas Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah Propinsi DKI Jakarta mengenal Penyakit karena Protozoa sebagai penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead).
”Penyakit ini dimasukkan ke golongan parasit tetapi sebenarnya berbeda. Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air,” kata narasumber pada dinas tersebut.
Salang satu gejala yang paling umum diketahui bila protozoa menyerang pencernaan adalah diare. ”Penyakit diare memiliki manusia dan ternak sebagai reservoirnya. penyakit ini dapat disebarkan lewat tinja hewan dan manusia yang sedang sakit. Penularannya bisa dengan jalan tinja mengontaminasi makanan secara langsung ataupun tidak langsung (lewat lalat). Oleh karena itu, manajemen penyehatan lingkungan lewat perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih juga harus dilakukan,” kata narasumber tersebut.

Protozoa Pada Ternak Ruminansia
Adapun sumber di Fakultas Peternakan Universitas Pajajaran menyampaikan, di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya.Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa dan fungi. Protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudahdilihat berdasarkan penyebaran silianya.
Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichs yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang fermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulutumumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna.
Jelas, secara tempat hidup protozoa di dalam tubuh, ada yang protozoa darah maupun yang tinggal di luar darah. Namun protozoa berpotensi merugikan dan menimbulkan penyakit, apalagi bila banyak faktor penunjang yang tidak dipedulikan.
Dari penyebaran protoa yang menimbulkan beberapa penyakit tadi, tampak bahwa parasit lain seperti serangga pun berpotensi menjadi inang perantara yang menyebarkan protozoa untuk berpindah dari hewan ke hewan lain.
Artinya, semakin dalam kita paham tentang makhluk-makhluk parasit, termasuk protozoa, akan makin kita peduli terhadap kesehatan ternak kita. (YR/ berbagai sumber)

Jurus Akademik Menguasai Ilmu Serangga dan Penyakitnya

Fokus Infovet

Jurus Akademik Menguasai Ilmu Serangga dan Penyakitnya


Adalah Dr Drh FX Koesharto MSc, ahli serangga yang dimiliki Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, menerima Infovet dalam ruang kerjanya dalam rangka wawancara tentang lalat berkenaan dengan sebuah liputan terkait produk lalat sebuah perusahaan obat hewan.

Wawancara yang dinamis itu menghantar pada suatu pemahaman bahwa seorang yang tekun pada bidangnya bakal sanggup menguasai ilmu itu, ilmu yang terbukti sangat dibutuhkan peternak dalam menangani persoalan serangga dan penyakit parasit yang dapat ditimbulkannya pada peternakan bahkan meluas pada kehidupan manusia sehari-hari.

Bahkan berkat keahliannya, Dosen FKH IPB Dr Drh FX Koesharto MSc pun ‘dipakai’ oleh berbagai kalangan bersifat nasional dan masuk katagori penting dalam bidang ini. Sebutlah prestasi-prestasi FX Koesharto yang juga menjadi referensi perusahaan obat hewan nasional PT Novartis Indonesia Animal Health Bussiness Unit yang dikenal sebagai perusahaan yang setia mengawal peternakan melawan parasit lalat dan sejenisnya.

Dr Drh FX Koesharto MSc juga Dosen Entomologi Kesehatan (ENK, Pascasarjana FKH IPB), Pengajar International Field Biology Course in Indonesia (IBOY Training Course in Indonesia) 2005, bersama Departemen Pertanian menggawangi standarisasi pestisida, bersama Departemen Kesehatan meneliti Studi Komunitas Nyamuk Tersangka Vektor Filariasis Di Daerah Endemis di Jawa Timur, dan berbagai prestasi lainnya.

Itulah cermin pragmatis dari keberhasilan dunia akademis dalam mencetak insan yang tekun mendalami bidangnya. Nahwa, dengan belajar secara tekun siapapun dapatlah menguasai ilmu, dalam konteks liputan fokus kali ini tentang penyakit parasit. Dan dalam konteks Dr Drh FX Koesharto MSc adalah tentang serangga dan penyakit yang disebabkan oleh parasit serangga pada ternak.

Dalam konteks almamaternya, kurikulum di FKH IPB Bogor lah yang menjadi jurus jitu menguasai ilmu lalat dan penyakitnya. Dalam bahasa peternak dan insan praktisi peternakan dan kesehatan hewan: “Inilah ilmu-ilmu yang dapat kita miliki untuk menjaga keamanan peternakan kita dari parasit dan penyakit yang disebabkan oleh parasit serangga!”

Ilmu-ilmu itu mutlak harus dikuasai oleh dokter hewan bahkan menjadi kurikulum wajib, apalagi dokter hewan ahli penyakit ternak lantaran parasit serangga, namun boleh dipahami oleh peternak dan masyarakat peternakan dan kesehatan hewan pada umumnya.

Kuasailah ilmu ini, itu kuncinya. Bahkan, dalam Jurusan Entomologi Kesehatan Pasaca Sarjana FKH IPB pun, akan didapat manfaat lebih dalam tentang ilmu itu, yang tentu mendasari penerapannya. Tentu saja, sebab di sini dipelajari biologi dan klasifikasi serangga, berbagai aspek bioekologi serangga, serta klasifikasi serangga sampai dengan familia (suku). Dibicarakan pula beberapa kaidah dasar dalam taksonomi dan sistematika hewan.

Tertarik untuk menguasai ilmu ini untuk kepentingan hajat hidup lebih luas? Di sini, pelajari struktur dan fungsi alat tubuh serangga, bentuk dan susunan tubuh serangga, eksternal maupun internal, berikut fungsi faali berbagai bagian dan sistem dalam tubuh serangga.

Lalu pahamilah ihwal arthropoda pengganggu kesehatan, daur hidup, ekologi, serta peranan serangga, tungau dan caplak dalam mengganggu kesehatan manusia. Juga, berbagai alternatif cara pengendalian.

Seorang ahli bidang ini sudah tentu mesti menguasai soal penyakit yang ditularkan serangga vektor, berbagai penyakit yang disebabkan oleh parasit, bakteri, virus dan berbagai berbagai agen patogen yang dapat ditularkan oleh nyamuk, lalat, pinjal dan ektoparasit lain.

Anda pun bagus untuk tahu proses penularan, hubungan antara patogen dan vektor, proses keberhasilan dalam proses transmisi serta proses keberhasilan vektor untuk menularkan ke inang. Mengertilah kondisi lingkungan dan perilaku manusia yang dapat menunjang proses penularan.

Jangan lupakan, biosistematika nyamuk, morfologi, eko-biologi nyamuk dalam kaitannya dengan lingkungan kehidupannya yang spesifik di dalam setiap habitat. Kuasai: taksonomi dan identifikasi nyamuk yang spesifik di dalam suatu daerah dan perubahan eksternal dan internal akibat perubahan lingkungan.

Ketahuilah soal arthropoda pengganggu kesehatan hewan, pelajari morfologi, daur hidup dan perilaku dari semua ektoparasit baik yang terbang dan merayap yang mengganggu kehidupan hewan dan ternak dalam penampilan dan produksi ternak.

Kemudian, soal serangga permukiman, pelajari investasi serangga dan tungau di tempat permukiman manusia, khususnya sebagai pengganggu ketentraman hidup maupun kesehatan. Kenali bioekologi dan cara-cara pengendaliannya.

Ihwal parasitologi medis, bahas daur hidup dan bioekologi parasit, berikut patogenesis dan kelainan-kelainan yang diakibatkannya. Dengan satu penekanan: parasit-parasit yang ditularkan oleh arthropoda (serangga).

Kita yang tertarik pun patut tahu tentang pestisida serangga kesehatan. Kajilah sifat fisik dan kimiawi, formulasi, aplikasi serta daya kerja pestisida yang biasa digunakan dalam dunia kesehatan dan veteriner.

Adapun, kita juga butuh metodologi penelitian entomologi kesehatan. Bahas berbagai kaidah dasar tentang pelaksanaan suatu penelitian, dari sejak perumusan ide awal, perencanaan, pelaksanaan, analisis data, hingga pelaporan hasil.

Sesudah itu, lanjutkan secara kristis bahasan berbagai pendekatan dan metodologi khusus yang lazim ditempuh dalam penelitian bidang entomologi kesehatan baik di laboratorium maupun lapangan.

Juga ada bahasan pengendalian serangga kesehatan. Tahukah, di sini pun ada falsafah, strategi dan taktik dalam menghadapi masalah vektor dan serangga kesehatan lainnya. Untuk itu berbagai cara dan pendekatan pengendalian serangga dibahas secara kritis, terutama yang digunakan dalam dunia kesehatan dan veteriner.

Tak terlupa, filosofi entomologi kesehatan. Maknai ilmu entomologi dalam sudut pandang kesehatan manusia. Bahas fungsi peranan entomologis dalam upaya penanggulangan kerugian dan penyakit karena atau yang ditularkan oleh serangga.

Kuasai, proses penularan vektor serangga oleh patogen sampai proses penularan ke manusia, serta faktor lingkungan termasuk perilaku manusia yang menunjang penularan.

Juga kuasai masalah khusus entomologi kesehatan. Ada berbagai topik pilihan dalam lingkup entomologi kesehatan khususnya untuk menunjang tesis atau disertasi.

Telaah mendalam berbagai aspek bidang Entomologi Kesehatan, pembahasan kritis terhadap beberapa permasalahan aktual.

Bahas lebih mendalam permasalahan yang diakibatkan oleh ektoparasit pada hewan dan ternak terutama perubahan lingkungan yang terbaru serta dampak ekonomis yang ditimbulkan.

Adapun hal akarologi kesehatan lanjut adalah telaah mendalam berbagai aspek bidang akarologi kesehatan dan veteriner, pembahasan kritis terhadap beberapa permasalahan aktual.

Masih ada lagi: kevektoran dan transmisi penyakit, di sini menelaah kapasitas vektor dalam kaitannya dengan potensi penularan penyakit.

Selanjutnya tentang ekologi ektoparasit bahas hubungan antara parasit dengan lingkungannya, termasuk syarat-syarat makanan dan kondisi setempat untuk melangsungkan hidupnya. Ada juga praktikum untuk mempelajari komunitas parasit pada berbagai kondisi habitat.

Kemudian soal fisiologi nyamuk, bahas lebih mendalam kondisi fisiologi nyamuk khususnya yang berkaitan dengan proses penularan penyakit dan keterdekatannya dengan manusia atau hewan.

Dari ilmu-ilmu wajib untuk menguasi penanganan terhadap serangga dan penyakit yang disebabkannya pada ternak, saat ini Dr Drh FX Koesharto MSc adalah salah satu pengajarnya, selain para dosen yang lain. Kajian ilmiah dalam kurikulum wajib di fakultas itulah yang menjadi dasar kuat kaum peternakan kita menangani serangga dan keberadaannya sebagai parasit penyebab penyakit.

Itulah yang disebut: Ilmu yang bermanfaat! (YR/ berbagai sumber)

PARASIT LALAT

Fokus Infovet

PARASIT LALAT


Lalat adalah jenis serangga yang berasal dari subordo Cyclorrapha ordo Diptera. Secara morfologi lalat dibedakan dari nyamuk (subordo Nematocera) berdasarkan ukuran antenanya; lalat berantena pendek, sedangkan nyamuk berantena panjang.

Lalat umumnya mempunyai sepasang sayap asli serta sepasang sayap kecil yang digunakan untuk menjaga stabilitas saat terbang. Lalat sering hidup di antara manusia dan sebagian jenis dapat menyebabkan penyakit yang serius. Lalat disebut penyebar penyakit yang sangat serius karena setiap lalat hinggap di suatu tempat, kurang lebih 125.000 kuman yang jatuh ke tempat tersebut.

Lalat sangat mengandalkan penglihatan untuk bertahan hidup. Mata majemuk lalat terdiri atas ribuan lensa dan sangat peka terhadap gerakan. Beberapa jenis lalat memiliki penglihatan tiga dimensi yang akurat. Beberapa jenis lalat lain, misalnya Ormia ochracea, memiliki organ pendengaran yang sangat canggih.

Kehadiran lalat di areal peternakan juga perlu diwaspadai. Demikian diungkapkan Zuhri Muhammad SPt Technical Serice PT Medion Cabang Pekanbaru Riau. Menurutnya, lalat tetap menjadi biang kerok dalam penularan berbagai penyakit pada ayam peliharaan. Untuk itu, alumni Fakultas Peternakan Jenderal Soedirman ini menganjurkan perlunya pengontrolan ketat pada lalat di sekitar lokasi kandang.

Menurut Zuhri Muhammad, kontrol lalat pada suatu farm merupakan hal mendasar dalam sistem manajemen pengendalian penyakit. Lalat dapat menimbulkan pelbagai masalah seperti mediator perpindahan penyakit dari ayam sakit ke ayam sehat, mengganggu pekerja kandang, menurunkan produksi, menurunkan kualitas telur pada layer dan mencairkan feses atau kotoran ayam yang berakibat meningkatnya kadar amoniak dalam kandang.

Lalat merupakan insekta yang unik bila dibanding dengan jenis insekta lain. Yang membedakannya adalah cara makan lalat yang meludahi makanannya terlebih dahulu sampai makanan tersebut cair. Setelah cair, makanan disedot masuk ke dalam perut. Hal ini disinyalir dapat memudahkan bakteri dan virus turut masuk ke dalam saluran pencernaannya dan berkembangbiak di dalamnya.

Penyakit yang disebabkan lalat dan larvanya seperti:
(1) lalat menjadi vektor penyakit gastrointestinal pada mamalia.

(2) NDV telah diisolasi pada lalat dewasa lalat rumah kecil (Fannia canicularis) dan larva lalat rumah (Musca domestica).

(3) larva dan lalat dewasa (M. Domestica) sering termakan ayam, kemudian menjadi “Hospes Intermediet” cacing pita pada ayam dan kalkun

(4) lalat rumah (M. domestica) yang memakan darah ayam yang tercemar kolera unggas dapat menyebarkan penyakit tersebut ke ayam lain.

Suksesnya program kontrol dilakukan dengan suatu metode pendekatan terintegrasi yakni ada 4 strategi manajemen dasar yakni:

(1) Memelihara kotoran agar tetap kering.

(2) Metode biologi, seperti menggunakan pemangsa yang menguntungkan (merangsang pertumbuhan musuh alami lalat yang biasanya banyak ditemui di kotoran dan musuh lalat ini dapat tumbuh baik jika kotoran kering). Kotoran kering akan membantu mendukung berkembangnya pemangsa dan benalu dari perkembangbiakan lalat.

Populasi predator dan parasit terutama terdiri dari kumbang, kutu dan lebah. Pertumbuhan musuh lalat ini umumnya lebih lambat dibanding lalat itu sendiri. Populasi yang cukup tinggi pada hakekatnya bermanfaat bagi pengendalian lalat dan dapat dikendalikan hanya dengan jalan tidak mengganggu kotoran dalam jangka waktu yang lama.

(3) Metode mekanik yakni dengan biosekuriti yang meliputi manajemen kebersihan (pembersihan dan desinfeksi kandang, terutama setelah panen) dan manajemen sampah (pembuangan litter, kotoran dan bangkai ayam.

Kemudian pindahkan hewan yang mati dengan segera dan membuangnya dengan baik (dibakar atau lainnya) dan minimalkan akumulasi pakan yang tumpah.

Sedangkan untuk luar kandang, Zuhri Muhammad SPt menganjurkan untuk membersihkan rumput liar di sekitarnya, hal ini bertujuan untuk menghindari kerumunan lalat dewasa serta menciptakan pergerakkan udara di sekitar kandang agar lebih baik.

Lalu manajemen kandang perlu ditingkatkan, hal dimaksud adalah ventilasinya, pengendalian kelembaban litter dan kebocoran air. Lalat dapat berkembangbiak di kotoran dengan kelembaban 55-85%.

Oleh karena itu perlu menghindari agar kandang tidak lembab, seperti mencegah kebocoran, pastikan air tidak masuk ke dalam lubang serta mengatur aliran udara agar dapat memberikan efek kering pada permukaan kotoran.

(4) Kontrol kimia melalui aplikasi insektisida atau obat-obatan (spray, fogs dan lain-lain). Pada bagian ini, alumni Fakultas Peternakan Unsoed Purwokerto ini menganjurkan memilih Cyromazine yang secara nyata telah terbukti keampuhannya dalam membasmi lalat di farm-farm peternakan.

Adapun aplikasi pemakaiannya adalah mencampur Cyromazine dengan pakan, kemudian gunakan 4-6 minggu berturut-turut, setelah itu dihentikan selama 4-8 minggu, lalu dipakai kembali, ini bertujuan untuk memutus siklus hidup lalat.

Biasanya ini dipakai untuk farm layer karena periode pemeliharaannya cukup panjang, sedang untuk broiler Zuhri lebih menganjurkan untuk menjaga kebersihan kandang, hindari genangan air dan jangan biarkan adanya pakan yang tersisa.


Upaya Mengurangi Lalat

Upaya dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan kimia dan pestisida lainnya, memberikan dampak kimia negatif, yang berlanjut pada pertaruhan nilai kesehatan manusia akibat residu kimia yang ditinggalkan.

Dampak negatif yang serius terhadap lingkungan menyebabkan penurunan kualitas produksi akibat kerusakan unsur hara tanah yang diikat oleh residu kimia dalam tanah.

Mengantisipasi kedua dampak serius diatas dan merespon ancaman pasar global akan kebutuhan produk organic, banyak cara dilakukan termasuk dengan cairan minuman stimulan yang: diterapkan pada ayam buras yang di antaranya dianggap punya keunggulan menekan ongkos produksi 15 s/d 25% untuk pengadaan pakan, mampu melepaskan pemakaian vitamin serta konsentrat buatan/pabrik, meningkatkan produktifitas telor dan daging secara kuantitatif dan kualitatif, menetralisir limbah kotoran (bebas polusi), mengurangi jumlah lalat dan serangga ternak, mengurangi ketegangan/stress pada ternak dan menekan angka mortalitas.

(Darman Suska, Infovet/ Berbagai Sumber)

Penyakit Parasit Itu Berbahaya Mengatasinya Sangatlah Mulia


Fokus Infovet

Penyakit Parasit Itu Berbahaya Mengatasinya Sangatlah Mulia


Memasuki bulan Ramadhan tahun ini, sedikit memprihatinkan. Betapa tidak, di awal Ramadhan, serentetan bencana alam menimpa saudara kita yang hidup di sepanjang wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bencana alam dimaksud seperti gempa bumi yang kembali melanda Provinsi Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat dengan kekuatan 7,9 SR, 7,7 SR dan 7,8 SR.

Kita pantas berduka, sebab semestinya saudara kita dapat melakukan ritual ibadah puasanya dengan aman, kehadiran gempa bumi sedikit membuncah ketenangan saudara kita dalam kekhusukannya menjalankan ibadah puasa dimaksud.

Senada dengan itu, dunia peternakan dan kesehatan hewan Indonesia juga belum sepenuhnya bisa bernafas legah. Di sana sini masih saja terdengar pembantaian unggas secara besar-besaran terkait ketakutan masyarakat terhadap bahaya penularan Avian Influenza dari unggas ke manusia.

Hal ini memang tak dapat dipungkiri. Setelah empat tahun Indonesia bersama AI, kondisi AI sendiri di Indonesia belumlah pulih. Hal ini masih saja terlihat manakala adanya laporan-laporan suspect Flu Burung yang menimpa manusia dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, penyakit ternak dari jenis parasit juga perlu diperhatikan. Hal ini terkait dengan kondisi iklim dipenghujung tahun 2007 ini yang cenderung basah, sehingga kekuatiran terhadap serangan parasit perlu ditingkatkan.

Menurut Technical Service narasumber Infovet di berbagai tempat di Indonesia, iklim basah merupakan faktor awal yang memicu munculnya serangan berbagai parasit pada ternak. Ditegaskan, dari sejumlah parasit dimaksud yang perlu mendapat perhatian lebih adalah cacing, lalat dan kutu.


Tiga Parasit

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya mendeskripsikan mata kuliah Parasitologi Veteriner memberikan ilmu-ilmu protozoologi (tentang protozoa), helmintologi (tentang cacing) dan entomologi (tentang serangga).

Menurut Laboratorium Parasitologi FKH UNair itu, diagnosis protozoa meliputi protozoa saluran cerna dengan pemeriksaan feses, bedah saluran pencernaan, usapan kerongkongan dan kerokan usus.

Khusus koksidiosis pada ayam dilakukan bedah bangkai dan uji biologis.

Protozoa darah meliputi pemeriksaan ulas darah dan khusus leucocytozoonosis dlakukan bedah bangkai dan gerusan organ dalam. Toxoplasmosis meliputi pemeriksaan feses, uji tekan dan uji biologis.

Adapun diagnosis penyakit helminth, meliputi bedah saluran pencernaan untuk identifikasi cacing, pemeriksaan feses secara natif, metode konsentrasi sedimentasi dan pengapungan. Identifikasi cacing secara natif dan pewarnaan Carmin.

Koleksi cacing dengan media basah dan preparat permanen. Pemeriksaan larva dan telur cacing dari padang rumput. Penghitungan telur cacing per gram tinja untuk mengetahui derajat infeksi.

Sedangkan diagnosis penyakit arthropoda, yang disebabkan karena tungau dilakukan cara pengerokan kulit pada kelinci dan ayam kampung, identifikasi secara makroskopis.

Identifikasi arthropoda penyebab penyakit pada ternak yaitu pinjal, caplak dan kutu dilakukan dengan cara pembuatan sediaan permanen dengan dan atau tanpa pewarnaan, dilanjutkan pemeriksaan secara mikroskopis.

Sedangkan arthropoda yang bertindak sebagai vektor penyakit yaitu lalat dan nyamuk, identifikasi dilakukan secara makroskopis dan koleksi cara basah dan kering/pinning.


Analisa Parasitologi

Untuk analisa parasitologi, peternak dapat menggunakan lembaga negara yang diakui internasional untuk melakukan pemeriksaan penyakit ini, yaitu Balai Besar Penelitian Veteriner yang menyediakan berbagai jenis layanan guna pemeriksaan penyakit cacing.

Layanan tersebut meliputi: Pemeriksaan sampel feses, darah/serum, ektoparasit, dan lain-lain asal hewan ternak/hewan kesayangan.

Lalu pemeriksaan feses dengan uji apung untuk menentukan EPG (eggs per gram feses) terhadap cacing nematoda dan cestoda, OPG (ookista per gram feses) terhadap Cocidia spp dan Toxoplasma.

Kemudian pemeriksaan feses dengan uji endap untuk menentukan EPG terhadap cacing trematoda. Pemupukan feses dan pemeriksaan larva cacing nematoda untuk menentukan jenis-jenis cacing nematoda.

Juga, pemeriksaan preparat ulas darah terhadap adanya Babesia bovis, B. bigemia, B. canis, Anaplasma marginale dan A. centrale, Theileria spp, Trypanosoma evansi dan T. theileri, Plasmodium spp., Leucocytozoon caulleryi dan L. sabrazesi, dll.

Pun, pemeriksaan sampel darah segar terhadap adanya Trypanosoma spp. dan Microfilaria sp. Pemeriksaan serum dengan uji Elisa deteksi antibody terhadap penyakit surra.

Selanjutnya, pemeriksaan kerokan kulit terhadap adanya scabies dan parasit. Serta, pemeriksaan ektoparasit dan cacing dewasa untuk tujuan identifikasi.

Untuk pemeriksaan-pemeriksaan itu, BBalitvet mempunyai alat-alat: Autoclave, centrifuge, microhaematocrit centrifuge, millipore deionized water, elisa reader, ELISA washer, freezer, incubator, magnetic stirer, stereo dan compound microscope, oven, pH meter, refrigerator incubator, timbangan, UV-Vis spectrophotometer.


Penelitian dan Penyuluhan oleh Peneliti

Para peneliti pun melakukan upaya penelitian tentang Parasit. Parasit-parasit yang umum dikenal antara lain: Protozoa (Eimeria tenella, Toxoplasma gondii, Leucocytozoon, Trypanosoma, Babesia), Penyakit Cacing Nematoda (Ascardia galli, Haemonchus contortus, Strongyl dan Strongyloides), Penyakit Cacing Trematoda (Fasciola gigantica), Penyakit Cacing Cestoda (Diphylobothrium latum, Railietina sp, Oxyspirura mansoni), Ektoparasit, Parasit Ikan.

Misalnya FKH UGM, melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, di mana kegiatan-kegiatan ini dalam pelaksanaannya melibatkan Dosen bagian Parasitologi, Mahasiswa, Kelompok Masyarakat dan Pemerintah Daerah di antaranya adalah sebagai berikut:

Pemberdayaan masyarakat kelompok ternak Sapi Potong Pandan Mulyo, Srandakan, Bantul dalam mencegah dan memberantas penyakit parasit secara terpadu melalui kegiatan belajar mengajar dan praktikum lapangan.

Lalu, pendampingan kelompok ternak sapi Bina Gama Desa Banaran dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati Hutan Wanagama, Gunung Kidul.

Lantas, pengembangan Stasiun Flora Fauna Bunder, Gunung Kidul sebagai Taman Wisata Alam sebagai upaya dalam pelestarian satwaliar Rusa Jawa (Cervus timorensis).

Kemudian, pemeriksaan parasit pada ternak di sekitar kawasan Hutan Lindung dan Cagar Alam di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Juga, penyuluhan penyakit parasit pada kambing di kelompok ternak desa Nglipar, Gunung Kidul.

Selanjutnya, penyuluhan penyakit parasit pada kambing di kelompok ternak desa Nganggring, Turi, Sleman.

Berikutnya, penyuluhan penyakit parasit pada hewan dan ternak di Dinas Peternakan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berlanjut, penyuluhan penyakit pada satwaliar di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Istimewa Yogyakarta.

Juga, penyuluhan Penyakit Parasit zoonosis pada pertemuan Dharma Wanita Persatuan Fakultas teknik UGM.


Kondisi pada Peternakan

Adapun, ini kondisi pada peternakan. Apabila anak ayam dibiarkan berkeliaran, mereka harus dilindungi dari pemakan mangsa dan ayam yang buas terutama pada malam hari. Tikus dan kutu ayam kalau dibiarkan dapat menyebabkan kontaminasi pada makanan ayam yang ahirnya dapat menimbulkan penyakit.

Pisahkan ayam betina muda dari yang lebih tua. Hal Ini akan menolong mengurangi kemungkinan menyebarnya penyakit dari induk ayam yang lebih tua ke yang lebih muda. Ayam betina dapat terkena penyakit cacing.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, terdapat sejumlah obat yang dapat dipergunakan untuk mencegah parasit pada ayam yang datangnya dari dalam. Dengan pengelolaan dan sanitasi yang baik dapat membantu mengurangi terjangkitnya parasit. Periksalah beberapa ayam betina dari waktu ke waktu untuk parasit yang datangnya dari luar seperti kutu ayam.

Parasit memang bukan sembarang penyebab penyakit, serta mampu melipatkan kerugian, dan kita perlu cermat mengamatinya. Dan itu: pasti bisa! (Infovet/ Berbagai Sumber)

Berbagai Metode Pengobatan Penyakit Parasitik

Fokus Infovet

Berbagai Metode Pengobatan Penyakit Parasitik


(( Berbeda-beda tetapi tetap satu juga? Kiranya begitu. Banyak jalan menuju Roma, banyak obat melawan penyakit parasit, demi kesehatan ternak kita. ))

Narasumber pada Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan Program Studi Sains Veteriner (SVT) mengungkapkan, terdapat manifestasi penyakit di tingkat sel dan jaringan dari organ tubuh hewan secara komperatif, stadium perjalanan, resiko pada fungsi tubuh, dan berbagai kemungkinan etiologi yang mendasari baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius.

Setelah memahami mekanisme kejadian penyakit tersebut, barulah seorang ahli mampu menghubungkan konsep dasar ilmu pengetahuan medis dengan pola pengambilan keputusan klinis seperti penentuan diagnosa, pilihan prognosa, program terapi dan pencegahannya.

”Dalam mempelajari mekanisme kejadian penyakit, digunakan metode klasifikasi organ sistem untuk mengungkapkan fenomena respons sel dan jaringan terhadap agen yang merusak serta mengganggu fungsi tubuh,” kata narasumber tersebut.

Seorang ahli pun akan mampu menguraikan interaksi secara bertahap antara sel inang dan agen perusak (infeksius dan non-infeksius) secara rinci dan sistematis. Dan kesemuanya ini sangat penting sebagai dasar pengobatan penyakit. Hal ini pula yang mendasari pengobatan terhadap penyakit parasitik, yang disebabkan oleh parasit.

Berbagai jenis obat hewan anti protozoa, anthelmentika (anti cacing) dan anti ektoparasit (serangga) termaktub dalam Indeks Obat Hewan Indonesia (terakhir edisi V 2005) terbitan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Republik Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).

Indeks Obat Hewan Indonesia itu merupakan rujukan utama tentang obat yang legal dan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Obat-obat yang belum terdaftar di situ bisa jadi masih dalam proses perijinan, atau mungkin merupakan obat ilegal.

Obat Anti Protozoa
Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat bersaksi, lantaran obat untuk parasit darah protozoa harganya cukup mahal di samping itu jarang ada di pasaran, relatif sulit untuk memberantas anaplasma maupun piroplasma dalam darah hewan, kemungkinan dengan menghilangkan caplak dari lingkungan ternak dapat mengurangi penularan dari penyakit Anaplasmosis maupun Ppiroplasmosis.

Pernyataan Disnak Sumbar itu sekaligus sebagai masukan bagi Ditjen Peternakan Deptan RI yang telah mengeluarkan ijin terhadap berbagai jenis obat anti protozoa yang beredar di Indonesia yang termaktub dalam Indeks Obat Hewan tadi.

Jenis-jenis obat anti protozoa itu dicatat oleh Infovet zat aktifnya antara lain adalah: Diclazuril, Sulfaquinoksalin, Amprolium, Semduramisin, Toltrazuril, Diclorofenil Benseneatonitril, Monensin, Maduramisin, Sulfamonometoksin, Narasin dan Nikarbasin, Salinomisin, Isometamidum, juga ditambah Pirimetamin dan lain-lain.

Memang, dari indikasi obat-obat anti protozoa itu, kebanyakan adalah obat anti parasit Koksidiosis baik hewan besar (sapi, kambing, domba) maupun unggas dan ternak lain seperti kelinci. Lalu anti parasit Leucocytozoonosis (Malaria like disease) yang menyerang unggas, dan juga Trypanosomiasis yang menyerang sapi, kerbau, unta, kuda, keledai dan anjing.

Bagaimana dengan anti protozoa yang lain? Barangkali obat-obat tersebut bisa dimodifikasi sesuai sifat-sifat obat dan protozoa-nya yang bakal ditaklukkan? Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan Program Studi Sains Veteriner (SVT) mengungkapkan Obat Anti Protozoa memang butuh pengetahuan lebih mendalam mengenai kemampuan protozoa menginfeksi induk semang, cara-cara pencegahan dan pengendaliannya.

Ambillah contoh obat anti Toksoplasmosis yang diterapkan pada manusia. Di situ terdapat Spiramycin, suatu produk natural yang diperoleh dengan cara fermentasi dan ekstraksi dari jamur Streptomyces ambofaciens, merupakan satu-satunya makrolida yang dikenal mempunyai aktivitas antiparasit.

Spiramycin yang ditemukan oleh Pinnert-Sindico di Peronne, Perancis, merupakan anggota dari makrolida 16-ring yang mempunyai konsentrasi di jaringan tertinggi untuk kelas makrolida pada saat ini, serta mempunyai efek toksoplasmisidal yang cukup baik.

Jelas, soal obat-obat anti protozoa, kita yakin pasti banyak alternatif. Meski untuk hewan betul kita rasakan masih ada kendala seperti masukan dari Disnak Sumbar tadi.


Obat Anti Ektoparasit (Serangga Parasit)

Ditjen Peternakan Deptan RI telah mengeluarkan ijin terhadap berbagai jenis obat anti ektoparasit kutu, pinjal, nyamuk, caplak, lalat, tungau dan berbagai ektoparasit pada berbagai ternak.

Terdaftar pada Indeks Obat Hewan Indonesia, zat aktif obat-obat antiektoparasit itu antara lain Sevin, Ivermectin, Delmethrin, Moksidektin, Cipermetrin, Cyromasin, Doramektin, Fipronil, Permetrin, Selamektin. Bahkan satu perusahaan mempunyai obat yang merupakan komposisi berbagai jenis zat aktif glutaraldehid, didesilmetil, dioktidimetil, alkidimetilbensil dan derivat terpineol untuk insektisida spektrum luas.

Sebagai contoh praktis di lapangan, Drh Wasis Setyadi, seorang praktisi dokter hewan mandiri di Kulon Progo Yogyakarta mempunyai cara yang sangat effektif dan membuahkan hasil yang sangat memuaskan itu dengan penerapan preparat ivermectin 1%.

Dengan dosis seperti yang direkomendasikan dan aplikasi sub kutan/ bawah kulit, menurut Drh Wasis, mampu menuntaskan kasus myasis pada ternak. Maka ia pun berpendapat, Ivermectin adalah sebuah preparat yang mampu bekerja mengatasi infestasi parasit di dalam tubuh dan di luar tubuh ternak.

Sangat jarangnya preparat itu digunakan di peternakan rakyat oleh karena harganya yang tergolong tidak murah pada saat itu. Kini preparat itu sangat mudah diperoleh dan bahkan relatif murah harganya.

Adapun pengalaman lain, dalam membasmi lalat di peternakan, Zuhri Muhammad SPt Technical Serice PT Medion Cabang Pekanbaru Riau mempunyai kiat kontrol kimia melalui aplikasi insektisida atau obat-obatan (spray, fogs dan lain-lain). Pada bagian ini, alumni Fapet Unsoed Purwokerto ini menganjurkan memilih Cyromazine yang secara nyata telah terbukti keampuhannya dalam membasmi lalat di farm-farm peternakan.

”Adapun aplikasi pemakaiannya adalah mencampur Cyromazine dengan pakan, kemudian gunakan 4-6 minggu berturut-turut, setelah itu dihentikan selama 4-8 minggu, lalu dipakai kembali, ini bertujuan untuk memutus siklus hidup lalat,” katanya.

Biasanya ini dipakai untuk farm layer karena periode pemeliharaannya cukup panjang, sedang untuk broiler Zuhri lebih menganjurkan untuk menjaga kebersihan kandang, hindari genangan air dan jangan biarkan adanya pakan yang tersisa.

Zuhri Muhammad pun merekomendasikan untuk menggunakan suatu obat tertentu untuk menangani kutu, menurutnya, penggunaan obat ini di lapangan hasilnya cukup bagus.

Adapun teknik pemakaiannya dengan cara menyemprotkan ke bagian tubuh ayam yang terserang kutu tersebut dan ini dilakukan secara terus menerus sampai tidak ditemukan lagi kutu pada tubuh ayam dimaksud.

Adapun sumber di Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menyatakan pengendalian penyakit kudis pada kambing antara lain dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.


Obat Anti Cacing

Untuk berbagai jenis obat anti anticacing (anthelmintik) melawan berbagai jenis cacing pada berbagai tahap siklus hidup, Ditjen Peternakan Deptan RI juga telah mengeluarkan ijin yang terdaftar pada Indeks Obat Hewan Indonesia.

Zat aktif obat-obat anthelmentik itu antara lain Levamisol, Albendazol, Piperasin, Nitroksinil, Ivermectin, Fenbendasol, Triclabendasol, Flubendasol, Pyrantel Pamoat, Hygromysin, Klosantel, Niklosamid, Tetramisol, Parasigvantel, Fenotiasin, Oxfendasol, Avermectin, Oksibendasol, Abamektin,

Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia menyatakan status nutrisi ayam juga mempengaruhi pembentukan kekebalan terhadap parasit cacing. Menurut penelitian ayam yang diberikan pakan dengan kadar vitamin A, B kompleks, kalsium, dan lisin yang tinggi akan meningkatkan resistensi terhadap Ascaridia galli.

Mengingat bahwa lalat dapat bertindak sebagai vektor mekanik dari telur Ascaridia galli, maka pengendalian terbaik terhadap cacing tersebut adalah kombinasi antara pengobatan preventif dan manajemen kandang yang optimal, meliputi sanitasi/disinfeksi ketat dan pembasmian lalat.

Adapun, pencegahan dan pengobatan pada pullet biasanya diberikan sekitar umur 5 minggu, kemudian diulang dengan interval 4 minggu sampai ayam mencapai umur 21 minggu.

Sementara itu, Nyoman Sadra Dharmawan dari FKH Universitas Udayana Bali menyatakan, tindakan pencegahan dan pengobatan terhadap taeniasis akibat T asiatica, hampir sama dengan pencegahan dan pengobatan pada penderita T saginata klasik.


Obat Herbal Anti Cacing

Saat beban biaya penggunaan obat cacing mencapai 50% dari seluruh total biaya medikasi dalam arus kas, beberapa efek samping yang merugikan ditemukan dalam penggunaan obat cacing farmasi, seperti peningkatan kekebalan cacing terhadap obat farmasi dan peningkatan kasus intoksikasi pada ternak akibat pemakaian dosis yang berlebihan.

Untuk itulah, Dinas Peternakan Banjarbaru Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan memberi pengobatan alternative terhadap kasus cacingan pada kambing selain dengan obat cacing pabrikan, bisa pula diberi: buah pinang yang hampir matang (tua) ditumbuk halus dan cairannya diminumkan (jangan diberikan kepada kambing yang sedang bunting).

Sementara di Sumatera, obat cacing tradisional seperti di Riau antara lain: Buah pinang ditumbuk halus kemudian digoreng tanpa minyak (disangrai), kemudian ambil 1 sendok teh dicampurkan 1 botol air (250 cc), lalu minumkan.

Adapun sumber Dinas Peternakan Banjarbaru Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan menyarankan soal obat dengan pinang itu, “Dapat pula diberi campuran terusi dengan air tembakau. Buatlah air tembakau sebanyak 1 liter sampai berwarna coklat tua, masukkan terusi 30 gram, diaduk sampai rata dan kemudian ditambah air 2 liter lagi.”

Selanjutnya, “Kambing dipuasakan dahulu selama 12 jam, lalu diberi campuran tersebut 30–50 cc (seperlima gelas) untuk setiap ekor kambing dewasa. Setelah diobati jangan diberi makan dahulu sampai 6 jam.”

Sementara itu Dr Drh Setiawan Koesdarto dan Dr Drh Sri Subekti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga serta Dr Herra Studiawan dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dalam suatu kesempatan menyatakan salah satu pilihan dalam mengobati infeksi toxocariasis sapi Penyakit Cacing pada Sapi adalah dengan Fraksinasi Minyak Atsiri Rimpang Temuireng (Curcuma aeruginosa RoxB).

Selanjutnyua berdasar informasi FAO Indonesia, pencegahan dan pengobatan dengan tehnik medikasi etno-veteriner di implementasikan di SPFS (Special Programme For Food Security) Asia Indonesia, dengan tujuan mendapatkan penampilan produksi terbaik dari kelompok tani. Sistem medikasi ini menggunakan bahan dasar natural, baik berupa tanaman, mineral, jenis-jenis hewan tertentu, akupuntur, akupresur, pengeluaran darah dan lain-lain.

Sumber FAO itu menyatakan, di SPFS diperkenalkan penggunaan beberapa jenis tanaman yang tumbuh di sekitar area yang dapat digunakan sebagai obat cacing, seperti pinang, bawang putih dan biji buah pepaya.

“Penggunaan obat-obatan ternak natural secara rutin dilakukan di kelompok tani Amanah dan memberikan hasil peningkatan penampilan produksi ternak yang cukup signifikan, dimana hal ini disebabkan adanya penghematan di sektor pengadaan obat-obatan ternak,” kata Drh Johan Purnama MSc dan Taufikurrahman Pua Note, S.Pt, teknisi lapangan peternakan dan perikanan yang dalam suatu kesempatan menyatakan penggunaan Bahan Herbal Sebagai Obat Anti Cacing Untuk Ternak Sapi (Lombok Tengah).

Menurut mereka, dasar dari sistem medikasi etno-veteriner sebenarnya telah diletakkan sejak manusia melakukan domestikasi pada hewan liar untuk dijadikan hewan ternak, artinya sistem ini telah dikenal oleh nenek moyang kita dengan menggunakan manusia untuk dasar perbandingan dosis dan jenis obat yang digunakan.

Sistem medikasi ini menggunakan bahan dasar natural, baik berupa tanaman, mineral, jenis-jenis hewan tertentu, akupuntur, akupresur, pengeluaran darah dan lain-lain. Saat sekarang medikasi etno-veteriner telah mengalami kemajuan yang luar biasa dengan dasar-dasar biologi molekular yang sangat kuat dan ilmiah, bahkan penggunaan bahan natural telah ditujukan sebagai imuno-modulator untuk melawan beberapa jenis virus tertentu, seperti: Marek’s, Gumboro, Avian Influenza dan lain-lain.

Tehnik medikasi etno-veteriner ini telah mulai diperkenalkan di kelompok tani SPFS – Indonesia semenjak pertengahan tahun 2005 oleh Deputy Farming System-SPFS Drh Johan Purnama, MSc.

“Sebenarnya beberapa tanaman memiliki kemampuan untuk digunakan sebagai obat anti-cacing dan hal ini biasa dilakukan dalam tehnik beternak pada jaman dahulu,” kata Johan.

Beberapa jenis tanaman yang biasa diberikan oleh peternak dengan tujuan sebagai obat cacing adalah: pinus, jahe, biji labu, biji pinang, bawang putih, pepaya, bawang putih, jahe, beberapa jenis tanaman karet (contoh : Ficus religiosa) dan beberapa jenis tanaman yang memiliki kandungan tanin dengan konsentrasi yang tinggi.

Drh Johan Purnama MSc menyatakan di SPFS diperkenalkan penggunaan beberapa jenis tanaman yang tumbuh di sekitar area yang dapat digunakan sebagai obat cacing, seperti pinang. Biji buah pinang biasa digunakan oleh penduduk asli Lombok (Suku Sasak) untuk campuran mengunyah sirih, pohon pinang sengaja ditanam oleh penduduk asli untuk tujuan ini.

Penggunaan biji buah pinang ini ternyata sangat efektif dan sangat murah, sehingga tujuan penghematan biaya pemeliharaan dapat tercapai dengan baik, sehingga penampilan sapi di kelompok tani SPFS di Lombok Tengah juga semakin meningkat, karena kesehatannya yang terjaga dan tidak ada lagi kekuatiran dalam masalah biaya obat serta masalah keracunan obat cacing yang biasa timbul bila digunakan obat cacing farmasi.

Lalu bawang putih. Bawang putih yang biasa digunakan untuk memasak di dapur juga mempunyai khasiat anti-cacing yang sangat efektif, terutama untuk melawan infestasi cacing Ascaris sp, Enterobius dan semua jenis cacing paru-paru. Keuntungan lain dari bawang putih adalah adanya kandungan antibiotika alami yang sangat aman dan tidak meninggalkan residu di sapi, antibiotika ini akan berperan sebagai ”growth promotor” pada laju pertumbuhan sapi.

Pada pengobatan sapi-sapi muda penggunaan bawang putih sangat disarankan karena tidak pernah ditemukan efek samping yang merugikan.

Kemudian Biji Buah Pepaya. Biji buah pepaya (Carica papaya) terbukti dapat digunakan sebagai obat cacing yang sangat efektif, terutama untuk infestasi Ascaris sp. Getah pohon pepaya juga memiliki efektivitas yang sama, tetapi secara tehnis penggunaan biji buah akan jauh lebih mudah .

Menurut Drh Johan Purnama MSc, Kelompok tani Amanah adalah salah satu lokasi implementasi medikasi etno-veteriner pada ternak, kelompok ini mendapatkan gelar sebagai kelompok petani ternak terbaik di tingkat propinsi NTB hingga belasan kali, diharapkan dengan melakukan implementasi medikasi etno-veteriner pada kelompok ini akan menjadi contoh dan teladan bagi kelompok tani lain di NTB.

“Penggunaan obat-obatan ternak natural secara rutin dilakukan di kelompok tani Amanah dan memberikan hasil peningkatan penampilan produksi ternak yang cukup signifikan, di mana hal ini disebabkan adanya penghematan di sektor pengadaan obat-obatan ternak,” tutur Johan.

Hal positif lain yang didapatkan adalah bahwa petani menjadi semakin aktif belajar dalam usaha mencari alternatif obat untuk tujuan ekonomis. Rata-rata peningkatan populasi ternak untuk kelompok tani SPFS-Indonesia mencapai 87 % per tahun, dengan hambatan utama timbulnya penyakit-penyakit akibat sanitasi yang kurang baik karena kekurangan sumber air.

Oleh karena itu, pemeliharaan kesehatan rutin dengan perbaikan sanitasi secara optimal dan pemberian obat-obatan herbal diharapkan akan meningkatkan performa produksi ternak kelompok tani di Indonesia.

Berbeda-beda tetapi tetap satu juga? Kiranya begitu. Banyak jalan menuju Roma, banyak obat melawan penyakit parasit, demi kesehatan ternak kita. (Daman Suska, iyo, YR/ berbagai sumber)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls